Warga Gaza menangis saat jenazah dr. Marwan al-Sultan dan tujuh anggota keluarganya tiba di RS Al-Shifa usai serangan Israel yang menghantam apartemen mereka di Simpang 17 Gaza City, Selasa (2/7/25). (Anadolu/Getty Images)PRIORITAS, 3/7/25 (Gaza): Serangan udara Israel kembali menewaskan warga sipil Palestina. Kali ini, salah satu korbannya adalah dr. Marwan Al-Sultan, dokter senior sekaligus Direktur Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza.
Serangan itu menghantam sebuah apartemen di wilayah Gaza barat, tempat dr. Marwan tinggal bersama keluarganya. Ledakan dahsyat terjadi saat dini hari. Jenazah dr. Marwan, istrinya, dan beberapa anggota keluarganya ditemukan dalam kondisi mengenaskan di lokasi kejadian.
Laporan resmi dari kantor berita Palestina, WAFA menyebutkan, jenazah korban telah dipindahkan ke Rumah Sakit Al-Shifa. Sejumlah saksi mata mengonfirmasi tidak ada tanda-tanda peringatan sebelum serangan terjadi.
Tak jauh dari lokasi tersebut, serangan terpisah juga menghantam Sekolah Al-Zaytoun di bagian selatan Kota Gaza. Dua warga Palestina dilaporkan tewas, sementara beberapa lainnya luka parah dan masih dirawat di fasilitas darurat.
Organisasi kemanusiaan MER-C Indonesia mengonfirmasi kematian dr. Marwan dalam pernyataan resmi. Mereka menyebut serangan Israel kali ini secara langsung menargetkan rumah pribadi tenaga medis.
“Informasi yang diterima menyebutkan bahwa total sembilan warga Palestina syahid dalam serangan tersebut, dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka,” tulis MER-C melalui akun media sosial resminya, seperti dikutip Beritaprioritas dari Antara, Kamis (3/7/25).
MER-C juga menyoroti dedikasi dr. Marwan dalam pelayanan kemanusiaan. Selama bertahun-tahun, ia memimpin operasi medis di tengah situasi konflik tanpa pernah meninggalkan Gaza.
“Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tak hanya bagi rekan-rekan sejawat, tetapi juga bagi para pasien dan seluruh masyarakat Gaza yang mengenalnya,” tambah pernyataan MER-C.
Serangan terhadap tenaga medis dinilai sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional. MER-C mendesak komunitas global agar tidak lagi diam terhadap pembunuhan tenaga medis di wilayah konflik.
Fasilitas kesehatan yang dibangun hasil kerja sama Indonesia dan Palestina itu bukan kali pertama diserang. Sejak agresi Israel dimulai pada 7 Oktober 2023, RS Indonesia di Gaza kerap kali menjadi sasaran.
Serangan terakhir pada akhir Mei lalu mengakibatkan kerusakan parah pada struktur bangunan. Aktivitas medis terhambat. Puluhan pasien harus dipindahkan ke fasilitas lain, meski minim peralatan dan obat-obatan.
Serangan terbaru ini memunculkan pertanyaan serius tentang perlindungan infrastruktur sipil di zona perang, terutama rumah sakit dan sekolah.
Sejak awal konflik terbaru, data dari otoritas kesehatan Palestina mencatat lebih dari 56.500 warga di Jalur Gaza tewas, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Sementara 133.419 lainnya terluka, dan banyak di antaranya kehilangan anggota tubuh secara permanen.
Meski mendapat kecaman luas, Israel tetap melanjutkan serangan udara. Pemerintahnya menolak tuduhan kejahatan kemanusiaan, meskipun dunia internasional sudah mengeluarkan peringatan tegas.
Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) resmi menerbitkan surat penangkapan terhadap Benjamin Netanyahu selaku Perdana Menteri Israel, dan Yoav Gallant yang juga mantan Menteri Pertahanan Israel.
Mereka dituduh melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Selain itu, Mahkamah Internasional (ICJ) juga sedang memproses gugatan genosida yang diajukan terhadap pemerintah Israel.
Namun, hingga kini, belum ada tindakan nyata terhadap para pemimpin Israel. Proses hukum internasional berjalan lambat. Sementara itu, korban sipil terus berjatuhan setiap hari. (P-Khalied Malvino)
No Comments