31.1 C
Jakarta
Thursday, April 3, 2025
spot_img

    Panas !!! Anti-Hamas meningkat di Gaza Utara, militan keluarkan ancaman

    Terkait

    PRIORITAS, 28/3/25 (Gaza): Informasi yang diterima Beritaprioritas.com, Jumat (28/3/25), kampanye dan aksi demo anti-Hamas terus meningkat, terutama di Gaza Utara. Lantas, kelompok militan Palestina atau Hamas itu mengancam akan menghukum usai protes besar terhadap perang di Gaza dan kekuasaan Hamas, Kamis (27/3/25) lalu.

    Dilaporkan, ratusan warga Palestina telah berunjuk rasa dalam beberapa hari terakhir di Gaza utara dan tengah untuk meminta Hamas mundur dari kekuasaan. Beberapa banyak yang meneriakkan yel-yel menentang Hamas dalam unjuk rasa publik yang jarang terjadi terhadap kelompok militan tersebut.

    Disebutkan, para pengunjuk rasa juga menyerukan diakhirinya pertempuran mematikan selama 17 bulan dengan Israel yang telah membuat kehidupan di Gaza tak tertahankan.

    Ada pun aksi protes terhadap Hamas ini sontak mendapat pujian dari pemerintah Israel. Dan aksi demo berlangsung lagi pada hari Kamis.

    Ancam beri hukuman

    Terkait hal itu, Fraksi Perlawanan yakni sebuah kelompok induk yang mencakup Hamas mengancam akan memberikan hukuman bagi para pemimpin gerakan mencurigakan oleh warga Palestina diartikan sebagai pawai jalanan.

    “Mereka terus menerus menyalahkan perlawanan dan membebaskan pendudukan, mengabaikan bahwa mesin pemusnah zionis terus beroperasi tanpa henti,” kilahnya.

    “Oleh karena itu, orang-orang yang mencurigakan ini sama bertanggung jawabnya dengan pendudukan atas pertumpahan darah rakyat kami dan akan diperlakukan sebagaimana mestinya,” ujarnya.

    Sementara itu, pejabat Hamas mengatakan, orang-orang memiliki hak untuk berunjuk rasa tetapi unjuk rasa tidak boleh dieksploitasi untuk tujuan politik atau untuk membebaskan Israel dari kesalahan atas pendudukan, konflik, dan pemindahan paksa selama puluhan tahun di wilayah Palestina.

    Suarakan penolakan terhadap perang berkelanjutan

    Dilaporkan pula, beberapa pengunjuk rasa yang dihubungi Reuters mengatakan, mereka turun ke jalan untuk menyuarakan penolakan terhadap perang yang berkelanjutan. Dan mereka juga merasa kelelahan dan kekurangan kebutuhan dasar seperti makanan dan air.

    “Kami tidak menentang perlawanan. Kami menentang perang. Cukup perang, kami sudah lelah,” tutur seorang warga di lingkungan Shejaia, Kota Gaza kepada Reuters.

    “Anda tidak dapat menyebut orang sebagai kolaborator karena menentang perang, karena ingin hidup tanpa pemboman dan kelaparan,” tambahnya.

    Aksi protes melebar

    Sementara itu, video pada hari Rabu (26/3/25), yang keasliannya tidak dapat diverifikasi Reuters, menunjukkan protes di Shejaia di utara tempat demonstrasi dimulai, tetapi juga di daerah Gaza tengah Deir Al-Balah yang menunjukkan protes menyebar.

    Terpisah, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang telah menjanjikan penghapusan total Hamas, mengatakan, demonstrasi menunjukkan keputusannya untuk memperbarui serangan militer di Gaza setelah gencatan senjata berhasil.

    Sedangkan polisi Hamas, penegak hukum kelompok itu, kembali turun ke jalan. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mendesak agar warga Gaza untuk terus mengekspresikan ketidakpuasan mereka.

    “Belajarlah dari warga Beit Lahia. Seperti yang mereka lakukan, menuntut pengusiran Hamas dari Gaza dan pembebasan segera semua sandera Israel ini adalah satu-satunya cara untuk menghentikan perang,” tulisnya di akun media sosial X, merujuk pada protes pertama.

    Lalu, seorang pejabat Palestina dari kelompok militan yang bersekutu dengan Hamas mengatakan, aksi protes diizinkan tetapi tidak kerja sama dengan Israel.

    “Tokoh-tokoh mencurigakan itu mencoba mengeksploitasi protes yang sah untuk menuntut diakhirinya perlawanan, yang merupakan tujuan yang sama dengan Israel,” katanya kepada Reuters.

    “Kami tidak mengancam rakyat kami, kami memuja pengorbanan mereka, tetapi ada beberapa tokoh mencurigakan yang bekerja sama dengan tujuan pendudukan, mereka ingin membebaskan pendudukan dari tanggung jawab dan mempermalukan perlawanan,” paparnya.

    Diperkirakan, ;ebih dari 50.000 warga Palestina telah tewas oleh kampanye Israel di Gaza, kata pejabat Palestina.

    Tetapi, perang ini terjadi setelah ribuan orang bersenjata yang dipimpin Hamas menyerang komunitas di Israel selatan pada 7 Oktober 2023, menewaskan 1.200 orang sipil dan menculik 251 orang sebagai sandera, menurut penghitungan Israel.

    Kini, sebagian besar daerah kantong pantai yang sempit itu telah hancur menjadi puing-puing, meninggalkan ratusan ribu orang berlindung di tenda-tenda atau bangunan-bangunan yang dibom. (P-Selvijn R)

    - Advertisement -spot_img

    Viral

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Headline News

    - Advertisement -spot_img

    Terkini