Puluhan ribu imigran Maroko akhirnya pilih pulang dari Spanyol karena sulit dapat makan dan minum

Jeffry Wuisan
Selasa, 4 Agustus 2026
4 menit membaca

PRIORITAS, 4/8/26 (Madrid): Sebanyak 48.300 imigran ilegal Maroko yang berenang dan menyerbu masuk enklave Spanyol di Ceuta, terpaksa memilih pulang karena kesulitan mendapatkan makanan dan air minum.


Mereka juga dimusuhi penduduk setempat serta diusir petugas keamanan dan militer Spanyol untuk kembali ke negara asal, karena masuk secara ilegal.

Media Spanyol, Radiotelevisión Española (Rtve) mengutip pejabat pemerintah setempat hari Selasa (4/8) melaporkan saat ini masih ada 3000 hingga 5000 imigran yang coba bertahan dengan bersembunyi di Ceuta.

Dalam tiga hari pekan lalu sekitar 50.000 imigran susah payah berenang menyeberangi selat untuk masuk ke Ceuta, wilayah Spanyol di Afrika Utara.


Mereka rela menempuh perjalanan berbahaya demi memasuki wilayah Spanyol dan berharap dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik di Eropa.

Sebanyak 88 jenazah imigran yang diduga tenggelam ditemukan di pantai dekat Ceuta.

Sejumlah media Spanyol melaporkan para imigran akhirnya mulai kembali ke Maroko sejak Sabtu (1/8/2026) hingga Selasa ini (4/8/2026).

Rata-rata para imigran mengaku kelaparan, kelelahan, serta menghadapi permusuhan dari sejumlah penduduk setempat setelah tiba di Ceuta, Spanyol.

Kondisi tersebut membuat harapan mereka untuk mendapatkan kehidupan baru yang lebih baik di Eropa pupus.

Untuk mencapai Ceuta, orang-orang biasanya berenang dari kota Fnideq di Maroko dengan menempuh jarak sekitar 5 kilometer.

Sebagian lainnya mencoba menyeberang dari kota Belyounech yang lokasinya lebih dekat.

Tertarik dari media sosial

Sejumlah imigran mengatakan mereka awalnya tertarik berenang ke Ceuta, Spanyol setelah melihat video-video viral di media sosial yang menayangkan warga Maroko mulai berbondong-bondong ke Eropa.

Mereka juga menerima pesan dari teman-teman yang menyebut perbatasan Ceuta, Spanyil, yang selama ini dijaga ketat dapat ditembus.

Informasi tersebut mendorong ribuan orang bergegas menuju perbatasan dan mencoba masuk ke wilayah Spanyol dengan berenang maupun melompati pagar perbatasan.

Salah satunya Brahim, pekerja toko roti asal Fez, Maroko. Brahim mengaku meninggalkan pekerjaannya dan menyeberangi perbatasan setelah melihat video yang memperlihatkan ribuan orang melakukan hal serupa.

Ia berharap dapat membangun kehidupan yang lebih baik di Eropa. Namun, kenyataan yang ditemuinya di Ceuta berbeda dari ekspektasi.

“Kami datang untuk meraih kemajuan, bukan untuk dibodohi. Saya pikir saya akan membangun masa depan yang lebih baik di sana. Tapi saya terkejut di Ceuta. Bagaimana mungkin sandwich tuna dijual seharga 100 dirham (sekitar Rp 491.000 kurs hari ini)?” ujar Brahim seperti dilansir Kompas.com.

Brahim mengatakan dia bertahan hidup selama tiga hari hanya dengan air dan tidak mampu membeli makanan dengan harga tinggi di wilayah Spanyol itu.

Kondisi serupa diceritakan imigran lainnya. Mereka mengeluhkan banyak supermarket dan toko yang tutup sehingga kesulitan mendapatkan makanan maupun air.

Seorang pekerja di pelabuhan Tanger Med, Maroko, yang ikut menyeberang ke Ceuta, menggambarkan kondisi wilayah tersebut seperti penjara. “Ceuta seperti penjara, tidak ada yang bisa dilakukan di sana. Semuanya tutup,” ujarnya.

Bisnis di Ceuta seperti supermarket, mal, restoran dan toko-toko makanan minuman, sengaja tutup total karena khawatir penjarahan setelah gelombang puluhan ribu imigran menyerbu enklave Spanyol itu.

Spanyol bahkan terpaksa mengerahkan sekitar 3000 tentara Angkatan Darat, Laut dan Udara untuk mengamankan serbuan imigran tersebut.

Alasan lain yang membuat sebagian migran memilih kembali pulang adalah permusuhan dari warga setempat.

Sejumlah migran menuduh penduduk di El Principe, lingkungan yang mayoritas dihuni warga keturunan Maroko di Ceuta, menyerang atau mengusir mereka.

Salah seorang migran asal Maroko, Yassine Ichou, mengaku dipukul dan diusir dari kawasan tersebut.

“Mereka melakukan pengepungan untuk memaksa kami meninggalkan Ceuta sendiri. Mereka berhasil dalam rencana mereka,” kata Ichou.

“Mereka takut pada kami. Ada perkelahian malam ini di El Príncipe (lingkungan), mereka menyerang orang Maroko,” ujar Fana, imigran Maroko.

Sumber di Kementerian Dalam Negeri kepada Servimedia, mengakui ada dua orang mengalami luka akibat tusukan pisau, dalam dua insiden terpisah di kota otonom tersebut. Namun tidak ada korban jiwa.

Berbatasan dengan Afrika

Ceuta dan Melilla, wilayah Spanyol yang terletak sekitar 400 kilometer di sebelah timur sepanjang pesisir Mediterania Afrika Utara, merupakan satu-satunya perbatasan Uni Eropa dengan Afrika.

Ceuta telah berada di bawah kekuasaan Spanyol sejak 1580. Wilayah ini dihuni masyarakat Kristen dan Muslim.

Penduduk Spanyol dan Maroko serta para pekerja harian di wilayah tersebut hidup relatif harmonis.

Namun, Maroko secara resmi tidak mengakui Ceuta dan Melilla sebagai wilayah Spanyol dan kerap menyebut keduanya sebagai wilayah yang diduduki.

Spanyol merupakan salah satu titik utama kedatangan ke Eropa bagi orang-orang yang mencari peluang ekonomi lebih baik atau ingin melarikan diri dari kekerasan di negara asal mereka.

Ceuta dan Melilla memiliki sistem pertahanan perbatasan yang ketat karena keduanya dianggap sebagai tujuan bagi orang-orang yang berusaha mencapai Spanyol dari Maroko dan wilayah Afrika lainnya.

Banyak migran yang mencapai Ceuta atau Melilla langsung dikembalikan. Namun, sebagian lainnya ditempatkan di tempat penampungan migran sembari mengajukan permohonan suaka di Spanyol.

Selain kesulitan mendapatkan makanan dan tempat bertahan, para migran tidak menemukan cara untuk melanjutkan perjalanan dari Ceuta menuju Spanyol daratan yang harus melewati Selat Gibraltar yang lebih luas dan jauh, sekitar 29 kilometer (16 mil laut).

Situasi tersebut membuat sebagian imigran frustrasi dan memutuskan kembali pulang ke Maroko.(P-*/jw)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan