

PRIORITAS, 23/5/26 (Jakarta): Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani turun di sejumlah wilayah. Penurunan mencapai sekitar Rp1.000 per kilogram. Kondisi ini muncul setelah rencana perubahan mekanisme ekspor sawit.
Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) menilai rencana ekspor melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) memberi tekanan pada petani swadaya.
Ketua SPKS, Sabarudin, menyebut pasar merespons cepat rencana tersebut. Harga TBS langsung melemah di tingkat kebun.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa ketidakpastian pasar akibat kebijakan yang belum jelas mekanismenya telah lebih dulu dibebankan kepada petani,” ujar Sabarudin.
SPKS menilai penguatan tata kelola ekspor penting. Negara perlu menjaga nilai komoditas dan penerimaan. Langkah tersebut tetap harus melindungi petani.
“Negara hadir untuk melindungi petani, bukan menjadikan petani sebagai korban kebijakan ekspor yang terpusat. Kami tidak ingin harga TBS di tingkat kebun ditentukan oleh satu pintu yang tidak transparan,” kata dia.
SPKS melihat potensi monopsoni dalam skema ini. Pembelian CPO berisiko terpusat pada satu pihak. Persaingan pasar bisa menurun. Harga di tingkat petani ikut tertekan.
SPKS juga mencatat sejumlah risiko lain. Mekanisme harga berpotensi tidak terbuka. Proses ekspor berisiko melambat. Kepercayaan pembeli global bisa terganggu.
Data menunjukkan sekitar 60 persen kebun sawit dikelola petani rakyat. Produktivitas masih di bawah perusahaan besar. Tekanan harga berpotensi memperlemah posisi petani.
SPKS mengajukan sejumlah langkah. Harga TBS harus mengikuti acuan pasar. Praktik monopoli harus dicegah. Petani perlu masuk dalam pengawasan. Audit harus terbuka. Dana ekspor perlu kembali ke petani.
“Jika kebijakan ini tetap dipaksakan tanpa perlindungan yang jelas, maka yang akan menanggung beban terbesar adalah petani di desa. Rantai nilai sawit tidak dimulai di pelabuhan, tetapi di kebun petani. Jangan sampai kebijakan yang bertujuan memperbaiki tata kelola justru menghancurkan penghidupan mereka,” pungkas Sabarudin. (P-Khalied M)