PRIORITAS, 23/9/24 (Washington): Ada apa di Amerika Serikat jelang Pilpres 4 November 2024 mendatang?
Pasalnya dilaporkan, lebih dari 700 mantan pejabat keamanan nasional dan militer Amerika Serikat (AS) mendadak mendeklarasikan dukungan ke Kamala Harris sebagai presiden ketimbang Donald Trump dalam pemilihan 2024.
Mereka menyatakan itu dalam sebuah surat terbuka yang diterbitkan Minggu (22/9/24) waktu setempat oleh National Security Leaders for America, dikutip CNBC International, Senin (23/9/24).
“Pemilihan ini adalah pilihan antara kepemimpinan yang serius dan impulsif yang penuh dendam,” kata kelompok tersebut, yang terdiri dari para pemimpin senior bipartisan dan bertugas di militer serta kantor serta lembaga lainnya.
“Kami dilatih untuk membuat keputusan yang bijaksana dan rasional. Itulah sebabnya kami tahu Wakil Presiden Harris akan menjadi Panglima Tertinggi yang hebat, sementara Trump telah membuktikan bahwa ia tidak mampu menjalankan tugasnya,” jelasnya lagi, seperti dilansir CNBCIndonesia.com.
Pensiunan jenderal dan para duta besar ikut tanda tangan
Dilaporkan pula, pernyataan tersebut ditandatangani oleh 741 orang, termasuk meliputi 15 pensiunan jenderal bintang empat, 12 mantan pejabat setingkat Kabinet, delapan sekretaris dinas, lebih dari 120 duta besar. Ada pula tiga pejabat era Trump yakni Pensiunan Jenderal Angkatan Darat AS Peter Chiarelli, mantan Wakil Ketua Kepala Staf Gabungan pensiunan Jenderal bintang empat Paul Selva, dan pensiunan Mayor Jenderal Eric Thorne Olson.
“Tuan. Trump adalah presiden pertama dalam sejarah Amerika yang secara aktif merusak transfer kekuasaan secara damai, landasan demokrasi Amerika,” kata surat itu mengkritik Trump.
“Dia tidak menunjukkan penyesalan karena mencoba membatalkan Pemilu 2020 pada tanggal 6 Januari, berjanji untuk mengampuni para pelaku yang dihukum, dan telah menjelaskan bahwa dia tidak akan menghormati hasil Pemilu 2024 jika dia kalah lagi,” tambah mereka.
Selain itu, surat tersebut juga menuduh Trump mengkritik secara terbuka dan pribadi para pemimpin sekutu Amerika. Seperti Inggris, Israel, Australia, Kanada, dan Jerman termasuk Turki.
“Tuan Trump mengancam sistem demokrasi kita; dia sendiri telah mengatakannya,” bunyi surat dukungan itu lagi.
“Dia telah menyerukan ‘penghentian’ beberapa bagian Konstitusi. Dia mengatakan ingin menjadi ‘diktator’, dan klarifikasinya bahwa dia hanya akan menjadi diktator selama sehari tidaklah meyakinkan,” ujarnya.
Tim kampanye Trump skeptis
Sebaliknya, pengamat (dari tim kampanye Trump) skeptis dengan dukungan ini. Dikatakan mereka ialah sosok-sosok dibalik perang di luar negeri yang ada saat ini.
“Mereka adalah orang-orang yang sama yang membawa negara kita ke dalam perang asing yang tak berujung dan mengambil untung darinya sementara rakyat Amerika menderita,” kritik Direktur Komunikasi Kampanye Trump, Steven Cheung dalam menanggapi surat kritis tersebut.
“Presiden Trump adalah satu-satunya Presiden di era modern yang tidak membawa negara kita ke dalam perang baru,” kilah Steven Cheung. (P-jr) — foto ilustrasi istimewa