Membanggakan, Paus Leo XIV menerima patung Yusuf Arimatea dari Yogyakarta di Vatikan

Hosana Rawis
Minggu, 2 Agustus 2026
6 menit membaca

Adapun patung tersebut dipersembahkan kepada Paus Leo XIV dalam audiensi umum di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Rabu (25/3/26). Karya tiga dimensi itu menggambarkan Yusuf Arimatea bersama Bunda Maria, Maria Magdalena, dan dua orang lainnya saat menurunkan jenazah Yesus Kristus dari kayu salib.


“Kalau papa masih hidup, beliau pasti sangat terharu karena patung buatan Brata Gallery diterima langsung oleh Paus Leo XIV. Sebenarnya, ini keinginan papa sejak lama, tetapi kami memahami keinginan itu sulit diwujudkan,” kata Niko saat ditemui di Yogyakarta, Sabtu (1/8/26) kemarin.

Sebenarnya bagi Niko, perjalanan patung tersebut menyimpan makna personal. Ia melanjutkan usaha yang dirintis ayahnya dan menganggap diterimanya karya itu oleh Paus sebagai berkat yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya.

Bahkan Niko menyebut kejadian setelah penyerahan patung sebagai peristiwa luar biasa. Brata Gallery memperoleh pesanan pertama untuk membuat satu rangkaian lengkap patung Jalan Salib berukuran besar.


Adapun pesanan datang dari seseorang di Bandung. Niko diminta membuat 14 stasi Jalan Salib dengan tinggi setiap figur mencapai 180 sentimeter.

Dibsetiap stasi awalnya dirancang hanya menampilkan dua figur. Namun, Niko mengusulkan penambahan satu figur pada stasi ketiga belas yang menggambarkan adegan pieta, yakni Bunda Maria memangku jenazah Yesus.

Lalu pemesan menyetujui usulan tersebut sehingga stasi ketiga belas akan terdiri atas tiga figur. Dalam adegan itu, Yusuf Arimatea juga ditampilkan ketika jenazah Yesus diturunkan.

“Apakah ini bagian dari kisah patung Yusuf Arimatea yang diterima Paus Leo XIV, saya tidak tahu. Namun, saya mengirimkan berita tentang penyerahan patung itu kepada pemesan dan dia menyetujuinya,” lanjut Niko.

Disebut dia, pesanan tersebut istimewa karena seluruh patung akan ditempatkan di rumah pribadi. Pemesan juga menghendaki rancangan berbeda dari bentuk Jalan Salib yang lazim, termasuk tidak menampilkan Pontius Pilatus.

Bagi Niko, pesanan itu sebagai jalan baru bagi Brata Gallery. Selama ini galerinya lebih banyak membuat satuan patung rohani, bukan satu rangkaian Jalan Salib dengan ukuran figur mendekati tinggi manusia. “Mungkin ini jalan Tuhan,” katanya.

Tidak mendapat kepastian karya tersebut diserahkan kepada Paus Leo XIV

Sebenarnya Niko mengaku hanya mengetahui patung St Yusuf Arimatea akan dibawa ke Vatikan. Ia tidak mendapat kepastian karya tersebut akan diserahkan langsung kepada Paus Leo XIV.

“Saya tidak membayangkan akan seperti itu. Tahunya hanya dibawa ke Vatikan. Saya pikir mungkin untuk museum,” katanya.

Pembuat patung Rosalinda Widjajanto dan Niko Harahap Tanubrata saat ditemui di Brata Gallery, Yogyakarta awal Mei 2026. - (Beritasatu.com/PWKI)
Pembuat patung Rosalinda Widjajanto dan Niko Harahap Tanubrata saat ditemui di Brata Gallery, Yogyakarta awal Mei 2026. – (Beritasatu.com/PWKI)

Adapun keterkejutan serupa dirasakan Rosalinda Widjajanto, staf Brata Gallery yang terlibat langsung dalam proses pembuatan patung.

Saat menyiapkan pengemasan dan membuat video petunjuk pembongkaran patung, Rosalinda masih mengira karya tersebut hanya akan ditempatkan dalam sebuah kegiatan atau museum di Vatikan.

“Setelah melihat beritanya, saya baru sadar patung itu ternyata diterima Paus Leo XIV,” tuturnya lagi.

Juga Niko tidak memberi tahu para pekerjanya bahwa patung tersebut berpeluang diserahkan kepada Paus. Ia hanya menyampaikan karya itu akan dikirim ke Vatikan.

Sesudah foto penyerahan patung beredar, Niko membagikannya melalui grup internal Brata Gallery dan media sosial. Para pekerja menyambut kabar tersebut dengan antusias, sedangkan sejumlah orang mulai menanyakan kemungkinan membeli patung serupa.

Dibawa delegasi PWKI, KWI dan pendamping dari Vatikan

Kemudian patung St Yusuf Arimatea dibawa ke Vatikan oleh rombongan yang terdiri atas delegasi Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI), Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), dan seorang pendamping dari Vatikan.

Ada lima delegasi PWKI, yaitu AM Putut Prabantoro, Mayong Suryo Laksono, Asni Ovier Dengen Paluin, Stanislaus Jumar Sudiyana, serta Bonfilio Mahendra Wahanaputera.

Sementara dari KWI hadir Ketua Komisi Komunikasi Sosial Mgr Agustinus Tri Budi Utomo dan Sekretaris Komisi Komunikasi Sosial Rm Petrus Noegroho Agoeng Sri Widodo. Rombongan didampingi Rm Markus Solo Kewuta SVD, pejabat Vatikan asal Indonesia.

Adapun kunjungan delegasi PWKI dan KWI juga berkaitan dengan penandatanganan nota kesepahaman penggunaan bahasa Indonesia oleh Vatican News. Dokumen tersebut ditandatangani KWI dan Dikasteri Komunikasi Takhta Suci setelah audiensi dengan Paus.

Lebih sering memproduksi patung Yesus, Bunda Maria, Santo Yusuf

Selanjutnya,Niko menerima pesanan pembuatan patung tersebut dari pendiri PWKI, AM Putut Prabantoro, pada Agustus 2025. Selama Brata Gallery berdiri, ia belum pernah membuat patung Yusuf Arimatea.

Namun, sebenarnya galeri tersebut lebih sering memproduksi patung Yesus, Bunda Maria, Santo Yusuf, bayi Yesus, Tiga Raja, serta tokoh-tokoh Kitab Suci yang lebih umum dikenal.

Adapun tantangan terbesar muncul karena Niko dan tim tidak memiliki referensi bentuk patung St Yusuf Arimatea. Putut memberikan gambaran mengenai adegan, posisi figur, dan ekspresi yang diinginkan.
Niko awalnya membuat sketsa sederhana. Karena bentuknya masih sulit diterjemahkan melalui gambar, ia mengusulkan agar rancangan langsung diwujudkan menggunakan tanah liat.

Lalu, proses tersebut berlangsung melalui beberapa tahap perbaikan. Putut memeriksa hasilnya, memberikan catatan, lalu Niko kembali mengubah bagian-bagian yang belum sesuai. “Sekitar lima atau enam kali mengalami perubahan,” kata Niko lagi.

Juga ada kesulitan lainnya, yakni proses penerjemahan gagasan yang melibatkan tiga pihak. Lambertus Widiantoro, kakak Putut, menyampaikan pengalaman spiritual yang menjadi dasar rancangan. Putut kemudian menerjemahkannya menjadi konsep, sedangkan Niko bertugas mewujudkannya dalam bentuk patung.

“Biasanya klien datang langsung kepada saya dan menjelaskan bentuk yang diinginkan. Dalam pembuatan patung ini prosesnya berbeda,” ujarnya dikutip Beritasatu.com.

Srmentara itu, Rosalinda juga baru mengenal sosok Yusuf Arimatea setelah terlibat dalam pengerjaan patung tersebut. Ia kemudian mempelajari peran tokoh itu dalam kisah pemakaman Yesus.

Diketahui, Yusuf Arimatea dikenal dalam tradisi Kristiani sebagai anggota Sanhedrin dan murid Yesus secara tersembunyi. Ia meminta izin kepada Pontius Pilatus untuk menurunkan jenazah Yesus dari salib dan memakamkannya secara layak di makam miliknya.

Diterima langsung oleh Paus Leo XIV

Selanjutnya Putut mengatakan, gagasan membawa patung St Yusuf Arimatea ke Vatikan muncul pada Juli 2025. Ia kemudian mencari patung serupa dan menghubungi sejumlah pematung di Indonesia.

Tapi, para pematung meminta contoh atau model yang dapat dijadikan acuan. Penelusuran melalui sejumlah pihak di Indonesia maupun Roma juga tidak menemukan patung yang sesuai.

Akhirnya Putut menghubungi Niko dan meminta patung itu selesai pada Oktober 2025. Karya tersebut semula direncanakan dibawa ke Vatikan pada November 2025, tetapi rencana itu gagal.

Lalu, patung akhirnya diberangkatkan pada Maret 2026 dan diterima langsung oleh Paus Leo XIV. Beritasatu.com melaporkan proses pembuatan karya tersebut, sejak sketsa hingga selesai, membutuhkan waktu sekitar tujuh bulan.

Adapun keberhasilan itu membuat Niko dan Rosalinda menyimpan harapan baru. Sesudah karya mereka mencapai Vatikan, keduanya ingin suatu hari dapat berkunjung langsung dan bertemu Paus Leo XIV di sana.

“Saya sangat ingin pergi ke Vatikan, apalagi kalau bisa bertemu Paus. Tentu saya dan Linda ingin,” kata Niko Harahap Tanubrata. (P-*/mj)

 

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

x
x