Karawo ikat Gorontalo menembus Jepang, tapi regenerasi perajin jadi tantangan

Sem Muhaling
Selasa, 15 September 2026
5 menit membaca

PRIORITAS, 15/9/26 (Gorontalo): Kain karawo ikat tidak sekadar menjadi produk kerajinan tangan khas Gorontalo. Di balik setiap motif yang terbentuk, terdapat keterampilan, ketelitian dan waktu panjang yang membuat kain tersebut memiliki nilai budaya sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Salah satu perajin yang terus mempertahankan keterampilan tersebut adalah Erawati Bouta. Berawal dari keterampilan yang ia pelajari sejak kecil dari keluarga, Erawati kemudian kembali menekuni karawo ikat secara serius sejak 2019. Empat tahun kemudian, tepatnya pada 2023, kegiatan tersebut mulai berkembang menjadi usaha yang melibatkan sejumlah perajin di rumahnya di Kabila, Kabupaten Bone Bolango.

Pengerjaan manual dengan ketelitian tinggi

Pembuatan karawo ikat membutuhkan proses yang tidak sederhana. Terlebih dahulu mengiris serat kain dan mencabut dengan hati-hati untuk menciptakan ruang bagi benang. Setelah itu, benang dimasukkan dan diikat mengikuti pola hingga membentuk motif yang diinginkan.

Seluruh tahapan tersebut dilakukan dengan tangan. Karena itu, pekerjaan membuat satu kain karawo membutuhkan kesabaran dan konsentrasi tinggi. Jika pengerjaannya hampir sepanjang hari, satu lembar kain dapat terselesaikan sekitar satu bulan. Namun, apabila pengerjaannya sambil menjalankan aktivitas lain, prosesnya dapat berlangsung hingga tiga bulan.

Lamanya proses pengerjaan menjadi salah satu alasan mengapa tidak banyak orang tertarik menekuni profesi tersebut. Padahal, keterampilan para perajin membutuhkan ketelitian khusus. Erawati memberikan upah sekitar Rp400.000 hingga Rp450.000 untuk pengerjaan satu lembar kain sebagai bentuk penghargaan terhadap keterampilan para perajin.

Pemerintah sendiri sudah menetapkan Karawo Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Sementara masyarakat di Gorontalo mengenal dua teknik, yakni karawo ikat dan karawo manila, yang memiliki karakter pengerjaan berbeda.

Jaga harga agar terjangkau

Dalam produksinya, Erawati memilih menggunakan kain katun dan benang jahit berbahan katun. Ia menghindari bahan seperti poliester maupun benang metalik karena agak kurang sesuai dengan teknik karawo ikat.

Pilihan bahan tersebut juga berkaitan dengan keinginannya agar masyarakat tetap dapat menggunakan Karawo. Harga pasarsan satu lembar kain karawo sekitar Rp600.000 hingga Rp1 juta, bergantung pada ukuran, panjang kain dan tingkat kerumitan motif. Harga akan meningkat apabila kain tersebut kemudian menjadi pakaian karena terdapat tambahan biaya jahit.

Menurut Erawati, karawo tidak seharusnya berubah menjadi produk yang hanya untuk kelompok masyarakat tertentu. Semakin banyak masyarakat menggunakan karawo dalam kehidupan sehari-hari, semakin terbuka pula peluang bagi perajin untuk mempertahankan produksinya.

Motif berkembang, pertahankan identitas

Bagi Erawati, perkembangan desain tidak boleh membuat karawo kehilangan karakter sebagai identitas budaya Gorontalo. Motif dapat mengikuti perkembangan zaman, tetapi ciri khas yang melekat pada karawo harus tetap dapat dikenali.

Motif bunga menjadi salah satu pilihan yang banyak peminatnya. Selain itu, terdapat motif burung maupun pola geometris yang pengembangannya berdasarkan kreativitas masing-masing perajin. Karena seluruh pengerjaannya secara manual, setiap karya dapat memiliki sentuhan dan karakter yang berbeda.

Karawo juga memiliki sejarah panjang dalam kehidupan masyarakat Gorontalo. Pada masa lalu, benang untuk membuat kerajinan tersebut bahkan ditenun sendiri dan penggunaannya banyak dikaitkan dengan kalangan kerajaan serta bangsawan. Kini, karawo telah berkembang menjadi bahan pakaian dan berbagai produk kerajinan lainnya.

Pernah hingga ke Jepang

Potensi karawo tidak hanya berhenti di pasar lokal. Pada 2023, Erawati mendapat kesempatan memperkenalkan karawo ikat dalam sebuah pameran di Jepang.

Pengalaman tersebut memperlihatkan tingginya apresiasi terhadap produk yang buatan manual. Bahkan, ia sempat melakukan percobaan untuk melihat apakah bisa memproduksi karawo ikat menggunakan mesin. Namun, upaya tersebut tidak berhasil menggantikan seluruh tahapan pengerjaan secara manual.

Sejumlah proses seperti menentukan bagian kain yang harus diiris dan dicabut hingga mengikat benang sesuai pola dinilai masih sulit dilakukan dengan mesin. Kondisi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa nilai karawo justru terletak pada keterampilan tangan perajinnya.

Dari pengalaman di Jepang, Erawati kemudian mengembangkan sejumlah produk turunan, salah satunya sapu tangan karawo. Produk tersebut kini dikirim ke Jepang dan mendapat permintaan, antara lain untuk membungkus koin maupun hadiah.

Regenerasi perajin menjadi pekerjaan rumah

Di balik peluang pasar yang semakin terbuka, karawo menghadapi persoalan serius berupa regenerasi perajin. Sebagian besar dari empat perajin yang kini bekerja bersama Erawati telah berusia lanjut.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai keberlanjutan keterampilan karawo. Jika para perajin senior tidak lagi mampu bekerja, belum tentu tersedia generasi baru yang memiliki kemampuan untuk meneruskan proses pembuatan kain tersebut.

Erawati kemudian mulai mengenalkan keterampilan karawo kepada anak-anak di SDN 4 Suwawa Tengah, tempatnya mengajar. Pengenalan kepada siswa kelas 4, 5 dan 6 berawal dari proses mengiris kain hingga menyulam. Sedangkan siswa kelas lainnya belajar mengenali motif serta membuat produk sederhana.

Menurutnya, tidak harus mengarahkan anak-anak langsung menjadi perajin. Hal terpenting adalah mereka mengenal proses pembuatan karawo sehingga memahami bahwa kain tersebut tidak tercipta secara instan.

Berharap pemerintah ikut perkuat karawo

Melansir Antara News, upaya memperkenalkan karawo kepada generasi muda sejalan dengan berbagai kegiatan pelestarian di Gorontalo. Dalam Gorontalo Karnaval Karawo (GKK) 2026, misalnya, sebanyak 47 tim ikut ambil bagian dan seluruh peserta menampilkan sulaman karawo dalam kostum mereka. Pemerintah Provinsi Gorontalo juga menyebut karawo sebagai aset budaya, pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.

Rangkaian kegiatan GKK 2026 turut melibatkan sekitar 500 pelajar dalam Mokarawo Kolosal sebagai bagian dari upaya mengenalkan keterampilan tersebut kepada generasi muda.

Bagi Erawati, pelestarian karawo tidak cukup hanya dengan menjadikannya simbol atau menyebutnya sebagai identitas Gorontalo. Harus ada perajin yang terus membuatnya, masyarakat yang menggunakannya serta generasi muda yang memahami proses dan nilai budaya di balik kain tersebut.

Karena itu, dukungan pemerintah dan masyarakat diperlukan agar produksi karawo tetap berkembang, pasar semakin luas, namun karakter dan teknik tradisionalnya tidak hilang. Dengan cara tersebut, karawo dapat terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus menjadi sumber penghidupan bagi para perajinnya. (P-*/sm)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025