AirAsia kompensasi 70 persen kenaikan harga Avtur melalui penyesuaian tarif tiket dan pengendalian biaya operasional

Jeffrey Rawis
Jumat, 18 September 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 28/9/26 (Jakarta): Pihak manajemen AirAsia menyatakan telah mengompensasi sekitar 70 persen kenaikan harga bahan bakar avtur pada kuartal II-2026 melalui penyesuaian tarif tiket pesawat secara dinamis dan pengendalian biaya operasional non-bahan bakar.

Dalam siaran pers AirAsia yang diterima di Jakarta, Jumat (18/9/26), Group CEO AirAsia Group Bo Lingam, mengatakan  tekanan harga bahan bakar menjadi salah satu tantangan yang dihadapi industri penerbangan global bersama dengan ketidakpastian geopolitik, termasuk peran Iran dan Amerika Serikat (AS), serta kenaikan biaya operasional.

Disebutnya, AirAsia juga melakukan penyesuaian kapasitas penerbangan sebagai bagian dari langkah menjaga efisiensi operasional di tengah kondisi pasar.

Taktisnya, AirAsia mengurangi kapasitas sebesar 20-25 persen pada kuartal III-2026 secara tradisional merupakan periode perjalanan yang lebih rendah di kawasan tersebut.

Kemudian, memasuki kuartal IV, AirAsia menyiapkan peningkatan kembali kapasitas menuju tingkat sebelum perang Iran-AS, sejalan dengan periode puncak perjalanan akhir tahun di kawasan Asia.

Mengembalikan 25 pesawat yang lebih tua

Senentara di sisi armada, AirAsia telah mengembalikan 25 pesawat yang lebih tua dan kurang efisien dalam penggunaan bahan bakar sebagai bagian dari program optimalisasi armada jangka panjang.

Disebut Bo, langkah tersebut membantu mengurangi beban sewa tetap sekaligus mempercepat transisi menuju pesawat berbadan sempit (narrowbody) yang lebih efisien.

“Dengan operasional penerbangan jarak pendek dan jarak jauh kini berada dalam satu grup, AirAsia memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam mengoptimalkan penggunaan armada dan kapasitas di seluruh jaringan, dengan fokus yang lebih kuat pada profitabilitas rute dan tingkat pengembalian yang berkelanjutan,” kata dia, dikutip media.

Selanjutnya AirAsia juga mengatakan rencana penggalangan dana perusahaan terutama diarahkan untuk restrukturisasi utang, penataan kembali pembiayaan, dan konsolidasi neraca guna mengoptimalkan struktur permodalan jangka panjang, bukan semata-mata untuk membiayai kebutuhan operasional.

Kenaikan biaya avtur mempengaruhi biaya operasional

Pada taklimat media pada Jumat, Co-founder AirAsia Tony, Fernandes mengakui kenaikan biaya avtur mempengaruhi biaya operasional maskapai. Ia mengatakan kuartal II menjadi periode yang sulit karena harga rata-rata avtur mencapai 183 dolar AS per barel, atau meningkat 66 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

Tapi, menurut dia, kondisi tersebut diperkirakan membaik seiring dengan langkah AirAsia menyesuaikan tarif untuk mengantisipasi kenaikan biaya bahan bakar.

Tidak ada pesawat yang grounded

Lalu, di tengah tekanan biaya operasional tersebut, Fernandes mengatakan tidak ada pesawat AirAsia yang dihentikan operasinya (grounded) akibat gagal bayar.

Kini, demikian Antara melansir, AirAsia memiliki sekitar 250 pesawat, dengan 10 pesawat lainnya diperkirakan siap beroperasi pada Oktober mendatang. (P-*/jr)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025