
Gedung Bursa Efek Indonesia. (Beritaprioritas/Zamir Ambia)PRIORITAS, 16/9/26 (Jakarta): Nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) berpotensi tertekan jika Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) memutuskan menaikkan suku bunga.
Nilai tukar rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) berpotensi tertekan jika Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga.
Kebijakan tersebut dapat meningkatkan imbal hasil (yield) obligasi AS. Kondisi ini membuat aset keuangan AS lebih menarik bagi investor. Arus modal asing dari Indonesia pun berpotensi meningkat.
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menyebut kenaikan suku bunga AS dapat meningkatkan daya tarik aset keuangan Amerika Serikat. Investor berpotensi mengalihkan sebagian dananya dari Indonesia ke pasar AS.
“Namun kalau seandainya Bank Sentral AS menaikkan suku bunga, ya, kemungkinan besar dana-dana asing yang ada di dalam negeri, Indonesia ini pun juga akan keluar kembali ke Amerika,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (16/9/26).
Ibrahim mengatakan kenaikan suku bunga The Fed juga berpotensi mengerek yield obligasi AS. Imbal hasil lebih tinggi dapat mendorong investor meningkatkan penempatan dana pada instrumen keuangan Amerika Serikat.
“Pada saat suku bunga tinggi berarti yield obligasi di Amerika pun juga mengalami kenaikan dan ini berdampak negatif, ya, terhadap arus modal asing yang kembali keluar,” katanya.
Arus modal asing keluar dari Indonesia dapat menambah tekanan terhadap rupiah. Permintaan dolar AS berpotensi meningkat saat investor memindahkan dana dari aset berdenominasi rupiah ke instrumen keuangan AS.
Tekanan juga berpotensi terjadi di pasar saham. Ibrahim memperkirakan IHSG dapat terdampak jika investor asing mengurangi kepemilikan saham di pasar domestik.
“Ini akan berdampak negatif, ya, terhadap IHSG, terhadap mata uang rupiah, kemudian terhadap investor-investor asing, ya, yang kembali melakukan penarikan dana disebabkan pada saat suku bunga tinggi berarti yield obligasi di Amerika pun juga mengalami kenaikan dan ini berdampak negatif, ya, terhadap arus modal asing yang kembali keluar,” tutur Ibrahim, dikutip Beritasatu.com.
Kendati kenaikan suku bunga AS berisiko menekan pasar keuangan, Ibrahim memproyeksikan The Fed tetap mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan ini.
Menurut dia, peluang kenaikan suku bunga masih terbuka karena inflasi AS berada pada level tinggi. Namun, skenario mempertahankan suku bunga dinilai lebih mungkin terjadi.
“Saya optimistis bahwa Kevin Warsh kemungkinan besar ini akan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan di minggu ini, ya, walaupun deputi-deputinya itu menginginkan untuk menaikkan suku bunga karena apa? Inflasi yang cukup tinggi,” imbuhnya.
Keputusan The Fed menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi arus modal global. Jika suku bunga dipertahankan, tekanan terhadap aliran modal keluar dari Indonesia berpotensi lebih terbatas.
Sebaliknya, kenaikan suku bunga The Fed dapat meningkatkan daya tarik aset keuangan AS. Kondisi tersebut berpotensi mendorong investor memindahkan dananya ke Amerika Serikat.
Perubahan arus modal itu pada akhirnya dapat menambah tekanan terhadap rupiah dan IHSG. (P-Zamir)