PRIORITAS, 28/8/25 (Jakarta): Dalam rangka Peringatan 80 Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan Bintang Kehormatan kepada 141 tokoh. Dan segeralah semua media, mulai dari media online hingga media sosial seperti WA Group, Facebook, Instagram, TikTok, dan lain-lain, di lingkungan masyarakat Kawanua mengucapkan selamat kepada tokoh-tokoh keturunan Minahasa yang ada di antara para penerima Bintang Kehormatan itu. Semua. Kecuali satu: Yusuf AR.
Yusuf AR berada di antara 88 penerima Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 74/TK/Tahun 2025. Namanya berada di urutan ke-61 dalam kelompok Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra, di mana orang Kawanua lainnya yaitu Dirut Pertamina Simon Aloysius Mantiri tercantum pada urutan No.74. Dalam kelompok tersebut, tercantum juga nama-nama antara lain Hashim Djojohadikusumoh dan Agus Harimurti Yudhoyono.

Dihimpun dari berbagai sumber terbatas, nama lengkap dan sebenarnya Yusuf AR adalah Joseph Albert Rawis. Ia tumbuh sebagai anak Komo Dalam (Lawangirung), Manado Tengah, Kota Manado, Sulawesi Utara. Sejumlah tokoh Sulut mengakui, ia sangat layak menerima penghormatan tinggi tersebut berkat perjuangannya yang penuh pengorbanan dalam menegakkan demokrasi di Indonesia.
Setelah aktif secara sangat intens sebagai eksponen KAPPI/KAMI sejak akhir 1965, ia tidak langsung merapat ke dalam sistem kekuasaan untuk sekadar merasakan pahala perjuangan. Ia malah tetap di garis penentangan terjadap rezim yg dinilainya menyimpang.
Yusuf Rawis, begitu ia dikenal, bersama Henk Tombokan, Arief Budiman dan lain-lain menggagas Komite Anti-Korupsi (KAK) yang menggegerkan dan didukung banyak tokoh besar di antaranya Bung Hatta.
Yusuf Rawis pula, yang bersama Bennie Akbar Fatah, memrakarsai rencana kudeta yang berujung peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malaria) 1974 – yang mengakhiri bulan madu komponen-komponen utama Orde Baru.
Yusuf AR lalu seolah hilang dari pentas politik, dan dalam suasana misteriusnya itu namanya segera berhias mitos (seperti dulu tokoh Tan Malaka) sampai Pendeta Yusuf Roni bisa sempat mengaku dialah tokoh bernama “Yusuf AR” itu.
Tapi sesungguhnya Yusuf tak pernah istirahat dari aktivitas politik. Sepanjang puluhan tahun ia aktif, melalui pelbagai jalan, sebagai ‘konsultan’ stabilitas politik demi pembangunan kesejahteraan rakyat. Termasuk, di kemudian hari, dalam kelompok Calon Presiden Prabowo Subianto tahun 2014.
Lalu, bagaimana dengan orientasi “penentangan demi kebenaran dan keadilan”-nya? Tetap konsisten. Tak pernah pudar. Yusuf AR juga aktif dalam kelompok diskusi serba kritis yang dikoordinasi oleh Sukmadji Indra Tjahjono, tokoh gerakan mahasiswa 1978 yang terkenal dengan bukunya “Indonesia Di Bawah Sepatu Lars”. Kelompok di mana juga aktif Wimanjaya Liotohe, oposan abadi yang pada 1993 menghebohkan dengan bukunya Primadosa Soeharto. (P-*/ht)