29 C
Jakarta
Wednesday, May 22, 2024

    Wapres tinjau simulasi vaksinasi Covid-19 di Puskesmas Cikarang, Erick Tohir: Vaksinasi Covid-19 mandiri gunakan produk Sinovac dan Novavax

    Terkait

    Jakarta, 19/11/20 (SOLUSSInews.com) – Giliran Wakil Presiden Ma’ruf Amin meninjau simulasi vaksinasi Covid-19 di Puskesmas Cikarang Utara, Bekasi, Jawa Barat, Kamis pagi (19/11/20), srtelah sehati sebelumnya hal serupa dilakukan Presiden Jokowi di Puskesmas, Tanah Sereal, Bogor.

    Seperti penunjauan sehari sebelumnya, dalam acara kali ini, Wapres menyaksikan prosedur vaksinasi Covid-19 didampingi Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto. Selain itu, ada Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Bupati Bekasi Eka Supria Atmaja. “Simulasi ini merupakan bagian persiapan pelaksanaan vaksinasi secara keseluruhan yang sudah direncanakan pemerintah,” kata Ma’ruf Amin di Cikarang.

    Wapres menjelaskan, ada persiapan sebelum vaksinasi dilakukan, antara lain data penerima, tahapan penyuntikan, mekanisme pendistribusian, hingga model pengolahan limbah vaksin.

    Wapres tiba di Puskesmas Cikarang Utara pukul 08.50 WIB dan langsung berkeliling meninjau simulasi vaksinasi bersama Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi, Sri Enny.

    Simulasi vaksinasi Covid-19 merupakan bagian upaya pemerintah menyampaikan sosialisasi terkait vaksin Covid-19 yang saat ini masih dalam tahap uji klinis. Sosialisasi vaksin bertujuan mengenalkan pentingnya injeksi vaksin untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 guna mengakhiri pandemi.

    Sebelumnya, Presiden Joko Widodo juga meninjau pelaksanaan simulasi vaksinasi Covid-19 di Puskesmas Tanah Sareal, Bogor, Jawa Barat pada Rabu (18/11/20).

    Presiden mengatakan vaksinasi Covid-19 di Indonesia diharapkan terealisasi pada akhir 2020 atau awal 2021, setelah melalui tahapan uji klinis dan verifikasi dari Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPOM).

    Vaksinasi mandiri

    Sementara itu, Menteri BUMN Erick Thohir memastikan, Indonesia akan menggunakan vaksin produksi Sinovac dan Novavax serta vaksin Merah Putih untuk vaksinasi Covid-19 secara mandiri atau berbayar. Penentu jenis vaksin tersebut ialah Kementerian Kesehatan (Kemkes).

    “Kalau ditanya bagaimana dengan jenis vaksin lainnya (selain ketiga vaksin tadi)? Saya jawab, selama vaksin itu masuk dalam kategori WHO, itu vaksin yang baik. Saat ini Kemkes memilih dua yang pertama, bukan tidak mungkin bertambah jenisnya,” kata Erick di Jakarta, Rabu (18/11/20).

    Erick Thohir.

    Erick Thohir. (Foto: Antara)

    BACA JUGA

    Kementerian BUMN, lanjutnya, mendapat mandat untuk memastikan produksi, distribusi, dan customer experience-nya berjalan dengan baik.

    Kebutuhan vaksin Covid-19 di Indonesia sesuai dengan keterangan Kemkes sebanyak 67 persen dari total populasi usia 18-59 tahun atau 107.206.544 orang. Jumlah vaksin yang dibutuhkan sebanyak 235.854.397 dosis.

    Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 dilakukan melalui dua skema, yaitu vaksin program atau yang dibiayai pemerintah dan vaksin mandiri. Vaksin pemerintah menjangkau sasaran sebanyak 30 persen dari seluruh kebutuhan atau 32.158.276 orang.

    Pemerintah menugaskan Kementerian BUMN untuk membantu vaksin mandiri atau vaksinasi dengan biaya sendiri. Kelompok penerimanya ialah masyarakat dan pelaku ekonomi. Jumlahnya mencapai 75.048.268 dengan kebutuhan vaksin mencapai 165.106.189 dosis. Angka itu sudah termasuk 10 persen wastage rate, yakni vaksin tidak terpakai, rusak, atau hilang.

    “Setelah bertemu dengan Kejaksaan, BPKP, LKPP, kemungkinan angka wastage-nya akan menjadi 15 persen. Untuk menjaga, jadi kemungkinan nanti angka dosisnya akan bertambah,” katanya.

    Kebutuhan vaksin mandiri ini akan dipenuhi dari Sinovac sebanyak 88,2 juta dosis, Novavax sebanyak 30 juta dosis, dan vaksin Merah Putih sebanyak 46,8 juta dosis.

    Seperti diberitakan, pemerintah telah menjalin kerja sama dan punya peluang mendatangkan vaksin dari sejumlah produsen, seperti Sinovac, Sinopharm, Cansino, Novavax, dan lainnya. Namun pada akhirnya untuk vaksinasi mandiri dipilih pengembang vaksin dari Tiongkok, Sinovac, dan pengembang dari Amerika, Novavax, selain produksi sendiri yakni, vaksin Merah Putih.

    Ditanya mengenai waktu vaksinasi, Erick menyatakan kemungkinan Januari 2021 sudah bisa dilaksanakan. Sedangkan terkait jaminan keamanannya, vaksin yang dipilih pemerintah ialah vaksin yang ada dalam daftar WHO dimana sudah menjalani uji klinis sesuai standar.

    “Sinovac menjalani uji klinis ketiga di Indonesia, maka tentu ini semua masuk kategori aman,” katanya.

    Bahkan Erick menyatakan, dalam satu dua hari, Sinovac sudah mengeluarkan data hasil uji klinis terakhir, seperti Pfizer dan Moderna.

    Sistem satu data

    Pada kesempatan itu, Erick memperkenalkan sistem digital satu data yang bakal bermanfaat mendukung pelaksanaan vaksinasi. Sistem ini dibangun oleh Telkom dan Bio Farma untuk menjaga transparansi dan kehati-hatian, sampai pemantauan efek samping.

    Selanjutnyq Direktur Digital Business PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, Fajrin Rasyid, mengatakan, pihaknya mengembangkan sistem informasi yang mengintegrasikan berbagai data dari berbagai sumber terkait dengan penerima vaksin. Misalnya, dari BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, TNI/Polri, Dukcapil Kemdagri, dan lainnya.

    Dari data yang terkumpul dibangun dashboard penyaringan atau filtering guna menentukan daerah prioritas, penduduk yang mendapat prioritas vaksinasi, jadwal sesuai dengan ketersediaan vaksin, perencanaan distribusi/logistik, dan sasaran, sesuai arahan Kemkes.

    Sistem satu data ini juga membuat aplikasi pendaftaran, baik untuk vaksin pemerintah maupun mandiri. Selain itu sistem tersebut bisa dimanfaatkan untuk memetakan suplai dan distribusi vaksin, serta lokasi vaksinasi.

    “Sistem ini bahkan bisa untuk memonitor hasil dari vaksinasi. Hal ini penting agar kita mengetahui siapa saja yang sudah divaksin, mana yang belum, apakah herd immunity sudah tercapai, di daerah mana, apakah ada laporan terkait kejadian ikutan pascaimunisasi dan lainnya,” katanya.

    Kemudian, Direktur Digital Healthcare PT Bio Farma, Soleh Udin Al Ayubi menyatakan, vaksinasi yang melibatkan ratusan juta target apabila didata manual berpotensi menimbulkan kesalahan atau kelambatan. “Teknologi digital mampu mengeliminasi kekurangan tersebut,” ujarnya.

    Dalam melakukan tugasnya memproduksi, packaging, dan penyaluran sampai tingkat provinsi, Bio Farma menerapkan teknologi digital dalam sistem satu data. Soleh menambahkan, solusi sistem digitalisasi ini sudah dikembangkan sekitar empat tahun lalu sebagai strategi perusahaan. Proses pengembangan solusi digital ini dipercepat ketika terjadi pandemi. (S-BS/jr)

    - Advertisement -spot_img

    Viral

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    - Advertisement -spot_img

    Terkini