25.6 C
Jakarta
Monday, June 17, 2024

    Teladan pers itu telah tiada, PWI duka mendalam

    Terkait

    PRIORITAS, 19/5/24 (Jakarta) : Prof Salim Said meninggal dunia pada Sabtu malam (18/5/24) di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat. Mantan Duta Besar RI untuk Republik Ceko itu akan dimakamkan pada siang ini di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Prof Salim Said adalah tokoh pers dan perfilman nasional, akademisi, cendekiawan, serta duta besar.

    Ia meninggal dunia pada usia 80 tahun setelah berjuang dari sakitnya selama beberapa waktu terakhir. Kabar meninggalnya mendiang Salim Said disampaikan pertama kali oleh istrinya, Herawaty.

    Kepergian Prof Salim, menimbulkan duka mendalam dan rasa kehilangan. Salah satunya datang dari organisasi pers tertua, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). ”PWI berduka atas wafatnya tokoh pers dan perfilman nasional sekaligus cendekiawan Prof. Salim Said,” demikian Ketua Umum PWI Pusat Hendry Ch Bangun saat dihubungi di Jakarta.

    Hendry menyatakan Salim Said merupakan teladan bagi insan pers di tanah air sehingga wafatnya menjadi kehilangan besar bagi komunitas pers di Indonesia. “PWI Pusat sangat berduka atas wafatnya Prof. Salim Said, seorang wartawan di Majalah Tempo yang belakangan lebih dikenal sebagai intelektual,” kata Hendry Ch Bangun dilansir Antara.

    “Kita kehilangan tokoh pers besar yang semakin jarang tampak padahal dunia pers membutuhkan keteladanan seperti Prof. Salim Said yang produktif dengan karya yang bermutu dan tidak pernah takut menyatakan kebenaran,” tambahnya.

    Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum PWI Pusat itu melanjutkan almarhum Prof. Salim Said juga menunjukkan bahwa wartawan dapat menjadi apa saja untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.

    Prof. Salim Said semasa hidupnya juga pernah bertugas sebagai duta besar RI untuk Republik Ceko pada 2006–2010, kemudian menjadi anggota MPR RI pada 1998–1999. Tidak hanya itu, Prof. Salim Said juga aktif mengajar di kampus-kampus ternama Indonesia, Malaysia, dan Thailand.

    Hendry menilai Indonesia punya dua tokoh pers yang serbabisa, yaitu Adam Malik yang jabatan tertingginya merupakan Wakil Presiden RI dan Salim Said. “Prof. Salim Said menunjukkan bahwa wartawan dapat menjadi apa saja karena salah satu kuncinya terus belajar, otodidak maupun lewat jalur formal di kampus,” kata dia.

    Kiriman Karangan Bunga

    Sementara pantauan di rumah duka, sejumlah Duta Besar Republik Indonesia mengirimkan karangan bunga untuk menyampaikan dukacita atas meninggalnya Prof. Salim Said, mantan Duta Besar RI untuk Republik Ceko. Karangan bunga tersebut dikirimkan ke rumah duka kediaman Prof. Salim Said di Jalan Redaksi, Kompleks PWI, Cipinang, Jakarta, sejak Sabtu (18/5) malam sampai Minggu dini hari.

    Karangan bunga tersebut antara lain datang dari Dubes LBBP RI untuk Kesultanan Oman dan Republik Yaman M. Irzan Djohan, Dubes RI untuk Thailand Rachmat Budiman, dan Dubes RI untuk Jepang Heri Akhmadi.

    Selain dari para duta besar, kiriman karangan bunga juga datang dari beragam tokoh, mulai dari aktivis, akademisi, politikus, pimpinan DPD, pejabat pemerintahan, pejabat TNI, sampai Presiden Terpilih Prabowo Subianto.

    Beberapa karangan bunga tersebut, di antaranya dari Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, politikus Partai Golkar Airin Rachmi Diany, serta aktivis HAM/co-founder Setara Institute Hendardi.

    Selain pernah menjadi duta besar, Prof. Salim Said juga merupakan tokoh pers dan perfilman Indonesia, akademisi, cendekiawan, anggota MPR, penulis buku dan pengamat militer. Jenazah almarhum rencananya dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, pada Minggu siang.

    Profil Prof. Salim

    Dilansir situs Dinas Kebudayaan Jakarta dan situs Universitas Islam Indonesia, Minggu (20/5/2024), berikut ini profil Salim Said. Prof. Salim Said pernah menjabat Duta Besar RI untuk Republik Ceko pada periode 2006-2010. Salim Said juga merupakan Guru Besar Ilmu Politik.

    Selain itu, Salim Said merupakan penulis yang aktif merilis sejumlah buku. Salah satu buku yang telah diterbitkannya berjudul ‘Militer Indonesia dan Politik: Dulu, Kini dan Kelak’.

    Salim Said juga merupakan seorang wartawan dan tokoh pers nasional. Selain itu, Salim Said adalah asisten sutradara. Salim Said lahir di Pare-pare pada 10 November 1943. Ia pernah belajar di Akademi Teater Nasional Indonesia serta pernah main dan menyutradarai beberapa pertunjukan teater.

    Almarhum kuliah di jurusan Sosiologi UI. Kemudian ia melanjutkan studi program doktor di Ohio State University, Columbus, Amerika Serikat, untuk ilmu politik. Disertasi Salim Said yang cukup dikenal menyoroti peran politik ABRI di masa revolusi 1945-1949. Hal ini kemudian membuatnya dikenal sebagai pengamat politik militer Indonesia. (P-ANT/wl)

    - Advertisement -spot_img

    Viral

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    - Advertisement -spot_img

    Terkini