PRIORITAS, 12/7/25 (Minsel, Sulut): Besok, Minggu (13/7/25), pesta “Pengucapan Syukur” (PS) berlangsung di Minahasa Selatan (Minsel), Sulawesi Utara (Sulut). So pasti, sebagaimana setiap tahun berlangsung, PS yang sesungguhnya bentuk tradisi kultural dimana kemudian dibalut secara religi (Kristen), akan sangat semarak, bahkan bakal melahirkan beragam cerita.

Ada cerita dari mulut ke mulut, yang dikutip dari berbagai sumber, PS merupakan salah satu tradisi turun-temurun dari nenek moyang suku Minahasa.
Disebutkan, PS ini awal mulanya berasal dari tradisi “Foso Rumages”. “Foso” yang berarti “ritual” dan “Rumages”; Berarti “persembahan yang diberikan dengan keutuhan atau ketulusan hati untuk Tuhan Yang Maha Besar.”
Artinya, tradisi “Foso Rumages” merupakan ritual untuk mempersembahan hasil panen sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana dipublikasikan Kompas.
Sarana “silahturami sosial”
Secara historis, menurut Max Rembang, akademisi yang juga dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), PS di Minsel merupakan tradisi kultural sekaligus tradisi gerejawi tahunan yang pada awalnya untuk mensyukuri keberhasilan panen padi, kemudian berkembang panen holtikultura, buah-buahan dan tanaman tahunan seperti kelapa serta cengkih.
“Menurut kakek saya, tradisi pengucapan syukur diadopsi dari tradisi umat Israel terhadap hal yang sama,” tutur Max yang kini juga Juru Bicara (Jubir) Unsrat.
Selanjutnya, demikian Max, di “era modern” saat ini, PS cenderung menjadi “sarana silahturami sosial”, bergeser dari ritual gerejawi.
“Karena secara faktual, kehadiran orang pada umumnya langsung di rumah masyarakat, tidak lagi ikut ritual di gedung gereja. Padahal, sejatinya PS adalah perwujudan ucapan syukur atas berkat Tuhan Allah yang memberikan hasil panen pertanian bagi umatNYA untuk dibawa ke gereja,” ungkapnya.
Telah bergeser
Faktanya, kini makna PS memang lebih banyak telah bergeser. Apalagi juga telah dipromosikan sebagai salah satu destinasi wisata bertajuk: “wisata budaya” dan “wisata religi”, malahan “wisata kuliner” yang gratis. Karena, di semua rumah, ada suguhan makanan minum yang disajikan secara gratis kepada siapa pun tetamu.
Nah, jadilah PS pun banyak mendatangkan wisatawan (lokal, maupun domestik, bahkan mancanegara).
Malahan, PS sering sudah mulai dibanding-bandingkan dengan perayaan ‘Thanksgiving’ di Amerika Serikat, yang diadopsi di Minahasa, Sulut, sebagai “Happiesgiving”.
Selanjutnya, berikut ini enam fenomena yang biasa terjadi setiap pelaksanaan PS, sebagaimana rangkuman Manadopostonline, seperti dikutip Beritaprioritas:
1. Miliaran uang hangus dibakar untuk membuat dodol, ‘nasi jaha’, tinoransak, pangi dan lain-lain. Setiap rumah, rata-rata akan mengeluarkan uang paling sedikit Rp1-2 juta. Berdasarkan perhitungan Beritaprioritas, jika jumlah KK warga gereja sekira 50 ribuan dengan pengeluaran rerata Rp2 juta, berarti dana yang dikeluarkan diperkirakan total 50.000 x Rp2.000.000 = Rp100.000.000.000 (sekitar Rp100 M).
2. Lebih banyak belanja uang makan minum berpesta daripada “Persembahan Masuk” ke Gereja. Ya, sudah bukan rahasia umum, persembahan ke Gereja akan banyak setiap kali pengucapan. Namun sebetulnya, lebih banyak uang yang dipakai belanja makan minum guna menyambut tamu dibanding persembahan atau kolekte ke Gereja.
3. Ratusan anjing dibunuh untuk dikomsumsi. Sebab, walaupun telah ada larangan menyembelih anjing, masih sangat banyak warga tidak mengindahkan seruan itu. Masakan RW tetap jadi andalan.
4. Ribuan orang akan mabuk minuman keras “Cap Tikus”. Hmmm, Minsel khususnya Motoling dan sekitarnya dikenal pabrik membuat arak Minahasa ini. Banyak petani “Cap Tikus” Minsel sukses membuat anaknya jadi sarjana dari bisnis penjualan minuman keras ini. Dipastikan banyak tamu akan mabuk.
5. Kelelawar, tikus hingga ular juga jadi menu andalan. Sudah terkenal menu-menu ekstrem ini ialah ‘pemanis’ meja makan.
6. Ribuan kendaraan akan membuat jalan “Trans Sulawesi” macet berjam-jam. Kasihan benar bagi masyarakat yang akan melakukan perjalanan darat dari Manado ke Bolaang Mongondow (Bolmong) Raya, Provinsi Gorontalo hingga Provinsi Sulawesi Tengah. Sebab seringkali perjalanan mereka terhambat gara-gara ribuan kendaraan memaceti Jalan Trans Sulawesi.
Tapi, PS memang sesuatu yang ditunggu-tunggu masyarakat Sulut, apa pun latar keyakinannya. Tapu, demikianlah enam fenomena yang lazim terjadi setiap perayaan PS di Minahasa Selatan. (P-*r/jr)