
Kepala BI Sulut Joko Supratikto usai melakukan penandatanganan dengan pimpinan BSG dan Mandiri langsung foto bersama dengan Rd. Darojat Wirabuana, selaku Area Head Manado PT Bank Mandiri; Stevie P. Maringka, Branch Manager PT Bank SulutGo Kantor Cabang Melonguane; serta Cheryl L. Humiang selaku Branch Manager PT Bank SulutGo Kantor Cabang Siau, di Sitaro, Kamis (30/7/2026). (ANTARA/HO-BI).PRIORITAS, 30/7/26 (Sulawesi Utara): Pengelolaan uang tunai di wilayah perbatasan dan kepulauan Sulawesi Utara kini makin solid lewat skema baru. Bank Indonesia resmi mentransformasi tiga fasilitas Kas Titipan di Tahuna, Melonguane, dan Siau menjadi Sentra Kas Mitra (SKM) Utama.
Langkah strategis ini ditandai lewat penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara BI Perwakilan Sulut bersama BSG dan Bank Mandiri pada Kamis. Perubahan ini menjadi bagian dari realisasi cetak biru pengelolaan Rupiah hingga tahun 2030 mendatang.
Kepala BI Perwakilan Sulut, Joko Supratikto, menjelaskan bahwa peralihan fungsi tersebut bertujuan agar ketersediaan uang layak edar makin merata. Perbankan maupun warga di kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) kini bisa mengakses perputaran kas dengan lebih cepat serta efisien.
Melalui jaringan SKM Utama, cakupan tugas yang dijalankan tidak hanya terbatas pada setor dan tarik tunai. Fasilitas ini juga bertugas mengolah uang, melayani penukaran bagi warga, hingga memberikan edukasi penggunaan Rupiah di wilayah Kepulauan Sangihe, Talaud, hingga Sitaro.
Meskipun sistem pembayaran digital terus digenjot, BI memandang penyediaan uang fisik yang berkualitas tetap menjadi kebutuhan vital di daerah kepulauan. Skema mitra ini dipastikan bakal menjaga pasokan likuiditas perbankan sekaligus mendukung kebijakan uang bersih (clean money policy).
Dari sisi pengawasan, model kerja sama baru ini dibekali dengan aturan tata kelola dan akuntabilitas yang lebih ketat. Pihak perbankan mitra wajib menyampaikan laporan berkala, sementara BI akan terus memantau kualitas layanan di lapangan secara rutin. (P-Gio R)