
Ilustrasi sumur minyak dan gas lepas pantai. (Dok/Antara)
PRIORITAS, 13/10/25 (Jakarta): Harga minyak global bergerak fluktuatif sepanjang periode perdagangan 6–11 Oktober 2025, namun cenderung melemah menjelang akhir pekan. Pelemahan tersebut dipicu oleh kenaikan pasokan dunia, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta harapan terhadap pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed).
Pada awal pekan, Senin (6/10/25), harga minyak Brent menguat lebih dari satu persen didorong oleh optimisme terhadap permintaan bahan bakar di Eropa dan Tiongkok. Brent berakhir di level sekitar US$66 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) turut naik tipis ke kisaran US$62,8 per barel.
Namun, pada Selasa (7/10/25), harga minyak berbalik melemah setelah data menunjukkan adanya kenaikan cadangan minyak mentah di AS. Brent turun tipis ke kisaran US$65 per barel, sementara WTI terkoreksi ke level sekitar US$61,5 per barel.
Kenaikan kembali terjadi pada Rabu (8/10/25) setelah pasar merespons turunnya stok bensin di Amerika Serikat. Harga Brent menguat 1,3 persen ke level US$66,27 per barel, sedangkan WTI turut naik ke US$63 per barel.
Namun, penguatan tersebut hanya berlangsung singkat. Pada Kamis (9/10/25), harga minyak kembali melemah usai tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza, yang meredakan kekhawatiran terkait gangguan pasokan. Brent turun ke posisi US$65,74 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$62,4 per barel.
Ditutup lemah
Sebagaimana dikutip dari Beritasatu.com, tren penurunan berlanjut pada Jumat (10/10/25), dengan Brent ditutup melemah US$ 1,03 atau sekitar 1,6 persen ke level US$64,56 per barel, sedangkan WTI turun ke kisaran US$61,1 per barel.
Secara keseluruhan, harga minyak Brent sepanjang pekan mengalami penurunan sekitar 2,3 persen, sementara WTI melemah 2,8 persen. Pelaku pasar kini menunggu kejelasan arah kebijakan suku bunga The Fed yang dinilai berpotensi memengaruhi permintaan energi global.
Menurut analis, apabila The Fed benar-benar memangkas suku bunga dalam waktu dekat, permintaan minyak berpeluang meningkat pada kuartal IV 2025. Meski demikian, potensi kelebihan pasokan dari produsen besar seperti Amerika Serikat dan Rusia diperkirakan masih akan menahan laju penguatan harga. (P-Zamir)
No Comments