Tonton Youtube BP

Butuh Rp7.500 T, Sri Mulyani bidik pertumbuhan tinggi 2026

Khalied Malvino
1 Jul 2025 16:54
3 minutes reading

PRIORITAS, 1/7/25 (Jakarta): Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi tinggi pada 2026, tetapi tantangannya tidak kecil. Pemerintah kini berpacu mencari suntikan dana jumbo agar mesin ekonomi terus menyala.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menegaskan, investasi menjadi kunci utama untuk mendongkrak produk domestik bruto (PDB) dalam dua tahun mendatang.

“Pertumbuhan ekonomi tinggi tidak mungkin tercapai tanpa pertumbuhan investasi yang signifikan. Growth dari investasi harus dijaga atau ditingkatkan pada tingkat 5,9 persen year on year (yoy). Ini berarti Indonesia membutuhkan investasi baru pada tahun 2026 untuk mencapai target pertumbuhan yang tinggi dengan investasi senilai minimal Rp7.500 triliun. Komponen investasi berkontribusi 30 persen terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) kita,” ujarnya dalam Sidang Paripurna DPR, Selasa (1/7/2025).

Dia menuturkan, target tersebut diharapkan tercapai melalui sinergi antara negara dan sektor swasta, termasuk optimalisasi peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).

Pemerintah, kata Sri Mulyani, juga mengandalkan konsumsi rumah tangga sebagai penopang pertumbuhan. Untuk mencapainya, belanja masyarakat harus tumbuh hingga 5,5 persen.

“Mengingat konsumsi rumah tangga berkontribusi 55 persen terhadap PDB, maka daya beli masyarakat perlu dijaga, tingkat inflasi rendah, kesempatan kerja tinggi, dan adanya berbagai intervensi pemerintah di bidang pangan dan energi,” kata Sri Mulyani, dilansir Beritaprioritas dari Antara.

Gulirkan berbagai kebijakan

Menkeu Sri Mulyani membeberkan, berbagai kebijakan digulirkan untuk mendorong permintaan domestik. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikembangkan secara ekspansif ditargetkan menyerap 1,7 juta tenaga kerja dan menciptakan efek ganda di seluruh daerah.

Selain itu, lanjutnya, pemerintah menargetkan pembentukan 80 ribu Koperasi Desa Merah Putih. Kredit usaha rakyat (KUR) juga disalurkan kepada 2,3 juta debitur untuk mendorong produktivitas UMKM.

“Apabila digabungkan dengan (investasi), maka konsumsi rumah tangga dan investasi keduanya berkontribusi 85 persen terhadap perekonomian (PDB),” tambahnya.

Sri Mulyani mengatakan, di sektor ekspor, hilirisasi menjadi andalan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekspor hingga 6,8 persen. Namun, tantangan eksternal terus membayangi.

“Ini merupakan target yang tidak mudah pada saat semua negara cenderung melakukan proteksi dan melihat ke dalam. Pertumbuhan ekonomi global sejalan dengan proyeksi IMF (International Monetary Fund) dan World Bank, yaitu yang hanya 2,4 persen untuk tahun 2026 atau 3 persen menurut IMF. Ini mengindikasikan tahun 2026 masih diproyeksikan perekonomian global tumbuh cukup lemah,” ungkap Sri Mulyani.

Dorong sektor industri pengolahan

Dari sisi produksi, Sri Mulyani menyebut pemerintah mendorong sektor industri pengolahan tumbuh hingga 5,3 persen. Sektor ini berkontribusi 19 persen terhadap PDB nasional.

Sektor perdagangan besar dan eceran yang menopang 13,2 persen PDB ditargetkan tumbuh 5,7 persen. Sedangkan sektor informasi dan komunikasi dipacu agar tetap tumbuh tinggi di angka 8,3 persen.

“Pemerintah memiliki semangat yang sama untuk dapat mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkualitas,” ujar Sri Mulyani menutup paparannya.

Pemerintah mengusulkan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 5,2 hingga 5,8 persen. Fraksi Gerindra dan PKB mendorong proyeksi hingga 6 persen lebih, agar target 8 persen pada 2029 dapat diraih lebih cepat. (P-Khalied Malvino)

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Video Viral

Terdaftar di Dewan Pers

x
x