
Rangkaian bunga yang menampilkan penampilan Putri Diana di Festival Film Cannes 1987. (Courtesy: Veronica Castillo/byveronicaphotography via people.com)PRIORITAS, 19/9/26 (London): Sebuah pameran untuk mengenang kehidupan Putri Diana telah dibuka di pusat kota London, menampilkan kembali gaya ikonik mendiang anggota keluarga kerajaan tersebut menggunakan ribuan bunga segar.

Pameran di Somerset House, London, Inggris, ini menampilkan 15 kreasi bunga segar yang merepresentasikan beberapa penampilan paling berkesan dari Putri Diana alias Lady Di semasa hidupnya sebagai anggota kerajaan.
“Fleurs de Villes” – sebuah pameran bunga yang diakui secara internasional – menggelar pameran bertema “Diana” di Somerset House, London, dengan menampilkan karya seni bunga yang dirancang khusus untuk menggambarkan perjalanan hidup Sang Putri.

Rangkaian bunga yang menggambarkan kunjungan Putri Diana ke ladang ranjau di Angola pada Januari 1997. (Courtesy: Getty via people.com)
Pameran yang mendukung “The Diana Award” ini menampilkan 15 manekin berhiaskan bunga segar yang terinspirasi oleh sejumlah penampilan paling ikoniknya.

Termasuk di dalamnya adalah saat kunjungan luar negeri pertamanya ke Australia, dan busana yang ia kenakan ketika berjalan melintasi lokasi proyek pembersihan ranjau darat HALO Trust pada Januari 1997.
Busana bunga lainnya dalam pameran ini mencakup “gaun penuh kepedulian” (caring dress) yang ia kenakan saat mengunjungi rumah sakit anak, dan gaun karya Catherine Walker yang dipakainya saat berbincang dengan pasien AIDS di Rio de Janeiro.
Satu lagi adalah gaun sutra biru karya Catherine Walker yang ia kenakan di Festival Film Cannes tahun 1987.

Putri Diana mengenakan gaun rancangan Catherine Walker saat kunjungan resmi ke Brasil. (Courtesy: veronicaphotography via people.com)
Dr. Tessy Ojo CBE, CEO “Diana Award”, mengatakan kepada PEOPLE bahwa menjelang peringatan 30 tahun wafatnya Putri Diana pada Agustus tahun depan, organisasi amal tersebut ingin menyoroti warisan sang putri.
“Salah satu hal yang selalu dilakukan [Diana] adalah keinginannya untuk menyoroti orang lain,” ujarnya, sebagaimana diterjemahkan dari people.com edisi akhir pekan ini.
“Kami ingin memanfaatkan kesempatan selama tiga minggu ke depan ini untuk menceritakan kisah anak-anak muda yang tidak pernah bertemu dengannya secara langsung, namun—berkat nilai-nilai utamanya yaitu kepedulian, welas asih, dan keberanian—mereka membawa perubahan bagi masyarakat atas nama dirinya,” tambahnya.
Ojo menuturkan bahwa ia masih ingat betul aroma bunga yang sangat menyengat yang memenuhi Kensington High Street—di dekat Istana Kensington—setelah Diana wafat pada bulan Agustus 1997.
“Saat itu adalah momen yang begitu berat; rasa duka terasa begitu mendalam hingga kita bahkan tidak bisa sekadar mengagumi keindahan bunga-bunga tersebut,” lanjutnya.
“Bukankah luar biasa jika kita bisa menceritakan kisah yang sama tiga puluh tahun kemudian, saat kita dapat memandang bunga-bunga itu dengan perspektif yang berbeda?” ucap Ojo.
Ia menambahkan, itu sama halnya dengan menghadirkan kembali aroma tersebut kepada masyarakat dalam suasana penuh perayaan, yakni kisah orang-orang yang dengan berani membawa perubahan bagi masyarakat atas nama dirinya.
Pameran ini terbagi menjadi empat bagian: A Global Icon (Ikon Global), yang menelusuri kemunculan Diana – yang bernama lengkap Diana Frances Spencer – di panggung dunia; Cultural Diplomacy (Diplomasi Budaya), yang menampilkan bagaimana pilihan busananya membangun hubungan antar-komunitas.
Selanjutnya Championing Change (Memperjuangkan Perubahan), yang menyoroti kisah-kisah tentang welas asih dan keberanian; serta A Wardrobe with Purpose (Busana Bermakna), yang mengapresiasi warisan filantropinya yang abadi.

Pameran “Fleurs de Villes” Diana di Somerset House, London, akan berlangsung hingga 6 Oktober 2026. (Courtesy: veronicaphotography via people.com)
Karen Marshall, salah satu pendiri “Fleurs de Villes”, mengatakan bahwa tim perangkai bunga meninjau ribuan penampilan Diana yang paling ikonik dan mengerucutkannya menjadi 15 pilihan yang mereka yakini akan “sukses” ditampilkan.
“Gaun-gaun yang akhirnya kami pilih akan mengejutkan pengunjung,” ujarnya. “Ada beberapa penampilan yang tidak ditampilkan di sini, seperti revenge dress (gaun balas dendam), namun bukan kisah itu yang ingin kami sampaikan,” katanya.
“Itu bukan bagian dari kisah warisan beliau. Pameran ini tentang kegembiraan; bunga melambangkan kegembiraan, dan itulah yang ingin kami cerminkan dalam pameran ini,” ucap Karen Marshall.
Marshall menjelaskan bahwa proses menciptakan ulang rambut pirang khas Diana saja memakan waktu berjam-jam, karena setiap helainya terbuat dari jerami dan berbagai jenis rumput. Ia menyebutnya sebagai “wig botani.”
“Anda bisa melihat cincinnya pada salah satu [display]; Anda bisa melihat tiara Spencer pada yang lainnya; semuanya terbuat dari bahan botani,” tambahnya.
“Diana adalah wanita bertubuh tinggi dan ramping yang sering mengenakan gaun pas badan, jadi kami harus memilih gaun-gaun dengan rok yang lebih lebar yang memberikan lebih banyak ruang untuk kreasi bunga yang menarik,” urainya.
Namun, katanya, “Kami juga ingin menyoroti momen-momen saat ia menggunakan mode secara cerdas dan efektif untuk mendukung berbagai gerakan sosial.”
Ia menjelaskan, karena ini merupakan “pameran seni yang bersifat sementara” (karena menggunakan bunga hidup), tim harus “terus-menerus memantau kondisi bunga-bunga tersebut.”
“Para perangkai bunga harus benar-benar ahli dalam teknik konstruksi mereka; mereka harus memikirkan apa yang ada di balik gaun, bagaimana cara menyegarkan bunga-bunga tersebut, serta fakta bahwa beberapa bunga akan mekar selama masa pameran berlangsung—ini adalah instalasi yang terus berubah,” tambah Marshall.
Pameran “Fleurs de Villes” Diana sudah berlangsung mulai 16 September dan akan berakhir pada 6 Oktober mendatang di East Wing Galleries, Somerset House, London. (P-*/rwt)

