27.2 C
Jakarta
Saturday, April 5, 2025
spot_img

    Takut kepada Israel? Ini dia profil Khaled Mashal yang tolak jadi Pemimpin Hamas

    Terkait

    PRIORITAS, 23/10/24 (Jakarta): Dua pemimpin tertinggi Hamas ditewaskan Israel dalam serangan berbeda. Terkini, mereka mencalonkan Khaled Mashal yang digadang-gadang jadi pemimpin baru Hamas, usai Yahya Sinwar tewas dibunuh Israel di Gaza pada Rabu (16/10/24) pekan lalu.

    Diketahui, pria yang menjabat sebagai Kepala Biro Politik Hamas itu sebelumnya jadi kandidat kuat untuk memimpin milisi Palestina tersebut.

    Akan tetapi, terkini dilaporkan, Mashal menolak untuk menggantikan Sinwar. Dia berdalih, karena alasan kesehatan.

    Namun, bisa saja karena takut dibunuh lagi oleh Israel. Ini masih harus dikonfirmasi lebih lanjut.

    Profil Khaled Mashal

    Diketahui, Mashal lahir di Silwad, Tepi Barat, pada 28 Mei 1956, yang saat itu masih di bawah kendali Yordania. Dia menghabiskan masa kecilnya di Tepi Barat.

    Kemudian Mashal dan keluarganya lalu pindah ke Kuwait usai Israel merebut wilayah itu pada 1967, demikian dikutip Britannica. Di Kuwait, ayah Mashal bekerja sebagai buruh tani dan penceramah.

    Terkait dengan ;atar belakang keluarga yang tak jauh dari agama, membuat dia menjadi sosok religius. Di usia 15 tahun, Mashal bahkan sudah bergabung dengan Gerakan Ikhwanul Muslimin di Kuwait. Organisasi ini berperan penting dalam pembentukan Hamas pada 1980-an.

    Selanjutnya, pada 1974, Mashal meneruskan pendidikan di Universitas Kuwait, mengambil program studi Fisika. Sesudah lulus, ia menjadi pengajar di jurusan yang sama sembari aktif di Gerakan Islam Palestina.

    Sekitar satu dekade kemudian, ia memilih berhenti mengajar dan fokus ke dunia politik. Mashal kian aktif berorganisasi dan mengumpulkan dana untuk membangun jaringan layanan sosial di Jalur Gaza dan Tepi Barat.

    Kemudian pada 1990, saat Irak menginvasi Kuwait, dia pindah ke Yordania. Di sini, cikal bakal Politbiro Hamas terbentuk di bawah tangan Mashal.

    Lalu Mashal menjadi Ketua Politbiro Hamas pada 1992. Biro ini beroperasi di luar Palestina dan sulit dijangkau Israel. Biro ini bertanggung jawab membangun hubungan internasional dan jadi tulang punggung negosiasi Hamas.

    Karena posisi itulah membuat dia menjadi incaran Israel. Pada 1997, agen pemerintahan Benjamin Netanyahu menyuntik racun ke Mashal. Netanyahu mengklaim aksi itu sebagai balasan pengeboman di pasar Yerusalem yang menewaskan 16 orang, demikian dikutip CNNIndonesia dari Reuters.

    Ketika itu, Raja Yordania, Hussein, seketika murka. Dia bahkan menyebut akan memberi hukuman gantung ke pelaku dan membatalkan perjanjian damai dengan Israel. Hussein bersedia melanjutkan perjanjian damai jika Israel memberikan penawar.

    Akhirnya Israel setuju. Mereka juga sepakat membebaskan Pemimpin Hamas, Sheikh Ahmed Yassin yang kemudian dibunuh tujuh tahun setelah itu.

    Akibat kejadian ini membuat nama Mashal melejit dan dikenal dunia. Ia bahkan dianggap sebagai pahlawan perlawanan Palestina.

    Diketahui, bagi pendukung Palestina, Mashal dan pimpinan Hamas lain merupakan pejuang atas pendudukan Israel di Palestina.

    Tetapi, seiring berjalannya, waktu hubungan Hamas dan Yordania memburuk. Amman menutup kantor kelompok ini dan mengusir Mashal ke Qatar.

    Selanjutnya pada 2001, ia pindah ke Suriah dan memimpin Hamas dari Damaskus.

    Akan tetapi, karena sikap keras Presiden Bashar Al Assad terhadap warga Sunni, aliran keyakinan Hamas, membuat Mashal tak bisa lama-lama di Suriah.

    Konflik internal Hamas

    Dilaporkan, Mashal juga sempat berselisih dengan pimpinan Hamas di Gaza. Dia mendorong kelompok ini untuk rekonsiliasi dengan Otoritas Palestina yang dipimpin Presiden Mahmoud Abbas dari faksi Fatah.

    Tetapi, pimpinan Hamas di Gaza menolak. Mereka bersumpah akan merebut kembali Tepi Barat.

    Diketahui, Hamas selama ini mengendalikan dan menguasai Jalur Gaza, sementara Tepi Barat dipegang Otoritas Palestina yang dalam hal ini ialah Fatah. Hingga kini, faksi Fatah dan Hamas tidak akur. Pimpinan Palestina sebagian besar dari Fatah, sementara Hamas memilih berjuang di Gaza sebagai basisnya.

    Nah, perselisihan itu membuat Mashal mundur dari kursi pimpinan Hamas. Lalu pada 2017, Pimpinan Hamas Ismail Haniyeh, yang tewas dalam serangan Israel pada Juli lalu, menggantikan dia.

    Sikap ke Israel

    Sebetulnya Mashal sempat menolak gagasan kesepakatan damai permanen.

    Tetapi, dia menyebut Hamas bisa menerima negara Palestina di Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur sebagai solusi sementara dengan imbalan gencatan senjata jangka panjang.

    Lalu, terkait agresi Israel di Gaza sejak Oktober 2023, Mashal sempat mendesak negara Arab dan Muslim untuk bergabung dalam pertempuran melawan Israel.

    Diketahui, dia juga mengatakan hanya Palestina yang akan memerintah Gaza usai agresi berakhir.

    Beberapa pengamat juga menduga negosiasi gencatan senjata kian sulit jika Mashal menjadi pemimpin, karena sikap keras dia ke Israel. (P-jr) — foto ilustrasi istimewa

    - Advertisement -spot_img

    Viral

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Headline News

    - Advertisement -spot_img

    Terkini