28.2 C
Jakarta
Wednesday, May 22, 2024

    Siloam wujudkan ‘clean and safe hospital’, jamin terselenggaranya layanan kesehatan secara maksimal bagi pasien Covid-19 maupun umum

    Terkait

    Jakarta, 27/4/20 (SOLUSSInews.com) – Pihak Siloam Hospitals berkomitmen membantu pemerintah menangani Covid-19. Upaya yang telah dilakukan antara lain meningkatkan kapasitas untuk merawat dan melayani pasien Covid-19.

    Selain itu juga mewujudkan clean and safe hospital guna menjamin terselenggaranya layanan kesehatan secara maksimal, baik bagi pasien Covid-19 maupun non-Covid-19.

    “Karena kalau melihat statistik, kita hitung yang nanti memerlukan perawatan, jumlah ICU yang dibutuhkan, dan ventilator, di Indonesia ini kurang. Di Jakarta pun kurang, lebih-lebih di luar kota. Jadi langkah pertama saya membeli 40 ventilator. Karena tahu itu bakal kurang,” ungkap Wakil Presiden Direktur Siloam International Hospitals Tbk, Caroline Riady, dalam diskusi bersama jajaran redaksi BeritaSatu Media Holdings (BSMH), di Jakarta, Kamis (23/4/20) lalu.

    Caroline menambahkan, Siloam telah menyiapkan 1.000 tempat tidur di 38 rumah sakit untuk merawat pasien Covid-19. “Ada rumah sakit yang berdampingan dengan mal, dan malnya tutup jadi kita ambil sebagian space dari mal itu. Ada juga yang kita perluas gedungnya,” ujarnya.

    Dari 1.000 tempat tidur tersebut, sekitar 100-200 di antaranya diperuntukkan unit perawatan intensif (intensive care unit/ICU). Namun, Siloam juga menyiapkan ruang perawatan yang sewaktu-waktu bisa dioperasikan sebagai ICU. “Kita siapkan mungkin tidak dikhususkan untuk ICU, tetapi kami pastikan pada saat dibutuhkan ICU, kita bisa mengoperasikannya di situ. Jadi kita akalin, misalnya, kita bawa ventilatornya masuk dan tentu kita pasang negative pressure,” ungkapnya.

    Pasien Covid-19 terpisah

    Upaya lainnya, mengkhususkan sejumlah tempat tidur di rumah sakit untuk merawat pasien Covid-19 yang terpisah dengan perawatan lainnya.

    “Kalau saya tidak lakukan itu, dan pasien itu (Covid-19) pasti ada, pasti pasien itu akan nyampur dengan pasien penyakit lain. Jadi tidak mungkin kami mengatakan tidak mau merawat pasien Covid-19. Apalagi kami tidak tahu pasien mana yang akan masuk ke Siloam yang sebenarnya sudah terinfeksi,” jelasnya.

    Dengan demikian, Siloam memastikan untuk pasien Covid-19, selain terpisah ruang perawatannya, sudah terpisah pula ventilasi udara agar bisa dipakai untuk isolasi.

    “Demikian pula timnya juga kita pisahkan, APD-nya juga kita pisahkan, juga pengiriman makanan ke dalam ruang perawatan kita khususkan. Semua kita khususkan, sehingga benar-benar terisolasi,” katanya.

    Clean and safe hospital

    Selanjutnya, untuk menjaga kualitas perawatan, Siloam juga menerapkan prinsip clean and safe hospitals. “Ini tantangan rumah sakit sekarang. Di satu sisi kita harus merawat pasien Covid-19 yang banyak sekali dan sangat menular. Jadi kita harus pastikan mereka tertangani dengan baik. Di sisi lain kita harus memastikan terus memberikan pelayanan umum kepada pasien yang lain,” katanya.

    Hal ini karena rumah sakit wajib terus beroperasi memberikan pelayanan kesehatan. “Coba bayangkan pasien jantung, kalau tidak di-manage dengan baik dalam tiga bulan, akan sangat berdampak. Jangan sampai kita menyelamatkan pasien Covid-19, tetapi banyak pasien kronis yang tidak bisa mengakses pelayanan kesehatan, yang akhirnya meninggal. Pasien melahirkan tidak akan menunggu Covid-19 selesai. Pasien trauma atau kecelakaan lalu lintas juga. Jadi kita tetap harus beroperasi memberikan fasilitas yang bersih dan aman untuk tetap bisa melayani pasien,” paparnya.

    Apa yang dilakukan Siloam, Caroline mengibaratkan membangun sebuah pabrik tembok, yakni memisahkan yang bersih dan terkontaminasi. “Jadi inilah pentingnya kita melakukan screening di depan rumah sakit sebelum masuk. Jadi sebelum masuk dia sudah harus tahu, dia ke ‘clean’ atau ke ‘terkontaminasi’,” jelasnya.

    Langkah ini, diakui membuat banyak pihak bertanya-tanya karena terkadang memicu antrean. Pihaknya meminta calon pasien mengisi data dan menjalani rapid test. “Pertanyaan saya begini, Bapak mau atau tidak berobat di sebelah pasien Covid-19? Mau atau tidak membawa anak di sebelah pasien yang ibunya Covid-19? Enggak mau. Jadi kalau kita menjaga rumah sakit untuk tetap aman bagi pasien, mau tidak mau kita harus tingkatkan screening,” ujarnya.

    Hal ini, lanjutnya, sangat dibutuhkan bagi populasi tertentu yang harus sering ke rumah sakit. “Populasi dimaksud ialah para lanjut usia, penderita penyakit jantung, gagal ginjal, dan kanker, yang memiliki risiko lebih tinggi daripada yang lain. Gagal ginjal perlu cuci darah setiap minggu dua sampai tiga kali. Pasien kanker banyak dari mereka harus datang berkala karena perlu kemoterapi dan perlu radioterapi,” jelasnya.

    Menurutnya, populasi penderita gagal ginjal dan kanker, pengobatannya sangat membutuhkan rumah sakit. “Kalau ada pasien hemodialisis yang cuci darah, anggap satu orang terkena Covid-19 tetapi tidak bergejala, yang datang tiga kali seminggu dan duduk di satu ruang hemodialisis bersama 20 orang selama empat jam lalu pulang, dan dua hari lagi balik lagi. Bayangkan kalau dari satu saja positif Covid-19, apa yang akan terjadi dengan 19 lainnya. Pasti mereka berisiko tertular. Jadi kita sangat prihatin, terutama terhadap pasien-pasien yang mempunyai faktor risiko tinggi,” tuturnya.

    Lockdown untuk MRCCC

    Atas pertimbangan itu pula, Siloam memutuskan Mochtar Riady Comprehensive Cancer Center (MRCCC) yang khusus untuk menanganai penyakit kanker, benar-benar dijaga steril.

    “Kami melakukan lockdown untuk MRCCC. Jadi harus bersih, karena kalau tidak bisa memberikan pelayanan umum, kasihan pasien kanker. Waktu 1-2 minggu sangat berarti sekali. Kalau pengobatannya terputus, bisa-bisa selesai Covid-19 dia tidak bisa ke rumah sakit dan akhirnya kankernya akan kembali,” jelas Caroline.

    Untuk masuk ke MRCCC, dipastikan tidak ada infeksi apa pun. Kalau ada infeksi diminta ke rumah sakit lain.

    Demikian pula jika ditemukan ada pasien kanker setelah menjalani screening ternyata ketahuan positif Covid-19, pihak rumah sakit akan menangani kasus Covid-nya terlebih dahulu. “Kita menyiapkan areal di ruang MRCCC yang tidak masuk di dalam gedung, di mana kita rawat sampai kondisi negatif, baru kita lakukan terapi kankernya,” jelas Caroline Riady. (S-BS/jr)

    - Advertisement -spot_img

    Viral

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    - Advertisement -spot_img

    Terkini