29.8 C
Jakarta
Saturday, August 30, 2025

    Sempat menjadi polemik, sejumlah akademisi tegaskan Bantik memang bagian dari Minahasa

    Terkait

    PRIORITAS, 29/8/25 (Jakarta): Setelah sempat memanas dan menimbulkan polemik, sejumlah akademisi Minahasa yang sebelumnya berbeda pendapat, akhirnya menegaskan: Komunitas Bantik memang merupakan bagian dari “Pakasaan” atau etnis Minahasa, Sulawesi Utara.

    Penegasan tersebut dicapai melalui sebuah diskusi terbatas yang berlangsung panas di sebuah resto di kawasan Rawasari, Jakarta Pusat, Kamis (28/8/25). Hadir dalam diskusi tersebut adalah Budayawan dan Fiksiwan asal Sulawesi Utara (Sulut) Reiner Emyot Ointoe, dan Ketua Dewan Pembina DPP Bantik Masuinsau Sasengkoang (BMS) atau DPP Bantik Bersatu Perantauan, Ir. W. Donald R. Pokatong, M.Sc., Ph.D.

    Turut hadir dalam diskusi yang mengambil topik “Minahasa, Sei Reen”, adalah Seniman dan Sutradara Film Veldy Umbas, Akademisi/Peneliti BRIN dr Roy G.A. Massie, MPH, PhD., tokoh masyarakat Kawanua Tedy A. Matheos, MM, dan Cendekiawan Merdy Rumintjap yang merangkap sebagai moderator diskusi. Hasil diskusi ini dirangkum Harris Vandersloot Laoh dari minahasaraya.com.

    Reaksi keras Bantik

    Sebelumnya, budayawan kelahiran Gorontalo, Reiner Ointoe, melalui sebuah tulisannya mengungkapkan bahwa Bantik bukan bagian dari etnis Minahasa. Pendapat tersebut diketahui mendapat reaksi keras dari kalangan Bantik, khususnya di Jakarta.

    Donald Pokatong selaku Pembina DPP Bantik Bersatu Perantauan, secara terbuka dalam berbagai kesempatan membantah pernyataan Reiner. Menurutnya, Bantik merupakan bagian dari etnis Minahasa. Ia menegaskan, Bantik memiliki akar sejarah kuat sebagai salah satu etnis yang mendiami tanah adat Minahasa.

    Perbedaan pendapat tersebut sempat menjadi topik pembicaraan hangat di kalangan tokoh Minahasa. Oleh karena itu sebuah pertemuan diinisiasi antara dua pihak berbeda pendapat, dalam hal ini Reiner Ointoe dan Donald Pokatong. Pertemuan tersebut terealisasi Kamis kemarin.

    Dalam pertemuan tersebut, Reiner mengklarifikasi pernyataannya. Ia mengatakan bahwa ungkapan dalam tulisan sebelumnya yang mengatakan Bantik bukan bagian dari etnis Minahasa merupakan versi yang diambil dari buku Tanah Minahasa. Penulis bukunya adalah Nicolas Graffland, seorang penginjil dan penulis berkewarganegaraan Belanda yang lama diam di Minahasa pada 1840-1867.

    Bantik sejajar dengan “Pakasaan” lain

    Melalui perdebatan panjang dan panas, Reiner Ointoe dan Donald Pokatong akhirnya mencapai titik temu. Mereka menegaskan bahwa entitas budaya Bantik memang merupakan bagian dari Minahasa, sejajar dengan pakasaan Tombulu, Tontemboan, Tolour, Tonsea, Tonsawang, Pasan, Ponosakan, hingga Borgo Bawontehu. Semua berpadu dalam konsepsi besar Minaesa atau Minahasa.

    Reiner mengakui, Bantik merupakan salah satu etnis bersama etnis lain yang kemudian membentuk sebagai bangsa Minahasa. “Sebagai etnis berarti ada koordinat yang lebih besar, nah koordinatnya adalah Minahasa,” ungkap Reiner. (P-ht)

    Viral

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Headline News

    spot_img

    Terkini