PRIORITAS, 29/8/25 (AS): Penembakan brutal sempat mengguncang sebuah Gereja Annunciation di Minneapolis, Amerika Serikat (AS) pada Rabu waktu setempat. Sebanyak dua anak tewas dan 17 orang lainnya terluka, 14 di antaranya anak-anak, dalam penembakan di Gereja Annunciation, Minneapolis, AS, Rabu (27/8/25) pagi waktu setempat. Parahnya, pelaku menembak anak-anak yang tengah berdoa saat gereja tersebut menjalankan misa.
FBI mengkategorikan sebagai aksi terorisme domestik bermotif kebencian. Pelaku, yang diidentifikasi sebagai Robin Westman (23), melepaskan tembakan dari luar jendela kaca patri gereja sebelum bunuh diri di area parkir. Polisi menemukan 116 butir peluru senapan, tiga selongsong peluru, serta satu peluru yang tersangkut di bilik pistol.
“Pelaku meninggalkan manifesto, video, dan ratusan halaman tulisan yang dipenuhi kebencian terhadap berbagai kelompok. Satu-satunya yang ia idolakan hanyalah para penembak sekolah dan pembunuh massal terkenal di AS. Hati si penembak dipenuhi kebencian,” kata Penjabat Jaksa Agung Minnesota, Joseph Thompson, dalam konferensi pers Kamis (28/8/25).
Thompson menambahkan, pelaku “secara khusus terobsesi dengan ide membunuh anak-anak”. Aparat meyakini itu menjadi motif utama penyerangan. Robin Westman, yang diidentifikasi oleh sumber penegak hukum sebagai tersangka penembakan di Gereja Annunciation di Minneapolis, berbicara dalam gambar diam dari video tanpa tanggal yang sebelumnya diunggah ke media sosial dan direkam oleh Robin Westman. Video tersebut kini telah dihapus.
Teroris domestik
Sementara itu, Direktur FBI Minnesota, Kash Patel, menyebut temuan awal menunjukkan serangan ini “tindakan terorisme domestik”. Menurutnya hal ini dimotivasi oleh ideologi kebencian. Di sisi lain, Kepala Kepolisian Minneapolis Brian O’Hara melaporkan jumlah korban luka terus bertambah. “Total korban anak yang terluka kini 17 orang, setelah ada tambahan laporan baru. Tiga korban lansia juga mengalami luka, dengan kondisi satu anak masih kritis dan seorang pensiunan dalam kondisi serius,” ujarnya.
Otoritas menegaskan, pelaku membeli senjata secara legal meski tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya. O’Hara meminta media berhenti menyebut nama pelaku karena diduga motif lain serangan ini adalah mencari ketenaran. “Ini adalah serangan keji terhadap anak-anak dan komunitas. Kita tidak boleh memberi panggung pada pelaku,” kata O’Hara seperti dikutip dari CNBCIndonesia.
Pelaku diketahui pernah bersekolah di sekolah Katolik yang terhubung dengan gereja tersebut, sementara ibunya juga pernah bekerja di institusi yang sama. (P-wr)