

Sekretaris Jenderal Kemnaker, Cris Kuntadi. (Dok. Humas Kemnaker).
PRIORITAS, 13/6/2026 (Bandung): Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menjalin kerja sama strategis dengan tiga perguruan tinggi di Bandung, yakni Universitas Teknologi Bandung (UTB), Universitas Pasundan (Unpas), dan Universitas Langlangbuana (UNLA), untuk memperkuat pengembangan sumber daya manusia (SDM), riset, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kesepahaman bersama tersebut ditandai dengan penandatanganan kerja sama oleh Sekretaris Jenderal Kemnaker, Cris Kuntadi, bersama pimpinan ketiga perguruan tinggi di Bandung, Jawa Barat, Senin (8/6/2026).
Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat keterkaitan antara dunia pendidikan tinggi dan dunia kerja sekaligus mendukung pembangunan ketenagakerjaan nasional yang lebih adaptif terhadap perkembangan industri dan kebutuhan pasar kerja.
Sekretaris Jenderal Kemnaker, Cris Kuntadi, menjelaskan perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat inovasi, pengembangan ilmu pengetahuan, dan riset. Sementara itu, Kemnaker memiliki mandat untuk menyiapkan tenaga kerja yang kompeten serta memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat.
“Kesepahaman bersama ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi kelembagaan dalam mendukung pembangunan ketenagakerjaan nasional. Sinergi ini menjadi kunci dalam menghasilkan SDM unggul yang mampu menjawab kebutuhan pembangunan nasional,” ujar Cris Kuntadi.
Melalui kerja sama tersebut, Kemnaker dan perguruan tinggi akan mendorong berbagai program pengembangan kompetensi yang berorientasi pada kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi diharapkan memperoleh akses yang lebih luas terhadap program pelatihan vokasi, sertifikasi kompetensi, pemagangan, hingga penempatan kerja.
Langkah ini juga diarahkan untuk memperkecil kesenjangan antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang. Penguatan hard skills dan soft skills menjadi salah satu fokus utama agar lulusan memiliki daya saing yang lebih tinggi di tingkat nasional maupun global.
Selain pengembangan SDM, kerja sama tersebut mencakup pelaksanaan riset dan kajian kebijakan berbasis data guna mendukung penyusunan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih efektif, responsif, dan sesuai dengan dinamika dunia kerja. Hasil penelitian dari perguruan tinggi diharapkan dapat menjadi masukan strategis dalam perumusan berbagai kebijakan ketenagakerjaan nasional.
Cris menegaskan kolaborasi yang terjalin tidak boleh berhenti pada tahap seremonial, melainkan harus diwujudkan melalui program-program konkret yang memberikan dampak nyata bagi dunia pendidikan, dunia kerja, dan masyarakat.
“Saya berharap penandatanganan hari ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial semata, tetapi menjadi titik awal dari implementasi program-program kolaboratif yang nyata, terukur, dan berkelanjutan,” katanya.
Ruang lingkup kerja sama meliputi tiga bidang utama, yakni pengembangan kapasitas SDM, pengkajian kebijakan ketenagakerjaan, serta pengabdian kepada masyarakat. Ketiga bidang tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem ketenagakerjaan sekaligus mendorong lahirnya berbagai inovasi dalam menghadapi tantangan dunia kerja masa depan.
Melalui sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi, Kemnaker menargetkan terciptanya sumber daya manusia Indonesia yang unggul, produktif, adaptif, dan berdaya saing tinggi. Kolaborasi ini juga diharapkan mampu menghasilkan solusi terhadap berbagai tantangan ketenagakerjaan sekaligus mempercepat pembangunan SDM menuju Indonesia Emas 2045. (P-*r/Humas Kemnaker/Gio R)