PRIORITAS, 5/4/25 (Seoul): Demo besar-besaran terjadi di ibu kota Korea Selatan, Seoul, Sabtu (5/4/25) ini. Ribuan warga turun ke jalan untuk menyuarakan dukungan terhadap mantan Presiden Yoon Suk Yeol, yang dilengserkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) sehari sebelumnya.
Diketahui, pelengseran (pemakzulan) Yoon Suk Yeol diputuskan secara bulat oleh Mahkamah Konstitusi pada Jumat (4/4/25) kemarin, menyusul upayanya pada 3 Desember 2024 untuk memberlakukan status darurat militer guna melawan apa yang ia sebut sebagai ancaman anti-negara. Tindakan tersebut dinilai sebagai upaya menggulingkan pemerintahan sipil, yang memicu keputusan pemilu baru pada Juni mendatang.
Hari ini, meski pun hujan deras mengguyur Seoul, ribuan pendukung Yoon Suk Yeol meneriakkan protes seperti “pemakzulan tidak sah!” dan “batalkan pemilu darurat!”. Aksi protes ini menandai meningkatnya ketegangan politik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
“Keputusan Mahkamah Konstitusi menghancurkan demokrasi bebas negara kita,” ujar Yang Joo-young (26 tahun) salah seorang demonstran.
“Sebagai generasi muda, saya sangat khawatir dengan masa depan negara ini,” katanya lagi.
Membela tindakannya
Sementara itu, Yoon Suk Yeol sendiri membela tindakannya sebagai bentuk perlindungan terhadap negara dari infiltrasi Korea Utara dan kelompok anti-pemerintah, meskipun pengadilan menyebut tindakan itu telah menimbulkan ancaman serius terhadap stabilitas nasional.
Ada pun sebagian warga merayakan keputusan MK Korea dengan pelukan dan tangis haru, namun kekhawatiran muncul dari kalangan konservatif.
Sebab, pendukung Yoon Suk Yeol dari kalangan tokoh agama ekstrem dan YouTuber sayap kanan ikut menyebarkan narasi, Korea Selatan tengah menuju sistem pemerintahan komunis.
Pendukung Yoon Suk Yeol, Park Jong-hwan (59 tahun), mengungkapkan kekhawatirannya, “Saya merasa Korea Selatan sudah tamat. Negara ini telah berubah menjadi negara sosialis dan komunis.”
“Kepresidenan Yoon memperlihatkan betapa terbelahnya masyarakat akibat polarisasi politik dan penyebaran informasi keliru,” kata Minseon Ku, peneliti pascadoktoral di William & Mary Global Research Institute.
Bila Pemilu yang akan digelar pada Juni, Lee Jae-myung, pemimpin oposisi dari Partai Demokrat, diprediksi menjadi kandidat terkuat. Lee dikenal memiliki pendekatan lebih damai terhadap Korea Utara dan berseberangan dengan kebijakan keras Yoon Suk Yeol. (P-me)