Investor menanti arah kebijakan gubernur baru BI

Zamir Ambia
Rabu, 29 Juli 2026
EKBIS NEWS 0 183
3 menit membaca

PRIORITAS, 29/7/26 (Jakarta): Perhatian pelaku pasar diperkirakan akan tertuju pada proses pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) serta arah kebijakan moneter yang akan diambil gubernur baru usai Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan pihaknya sempat memproyeksikan pengunduran diri gubernur bank sentral akan memicu tekanan jual yang lebih besar di pasar, terutama terhadap saham-saham sektor perbankan.

Meski demikian, kondisi tersebut belum terealisasi karena investor masih mempertahankan sentimen yang relatif positif.

“IHSG memulai pekan dengan kinerja yang lebih resilient dari ekspektasi kami. Kami sebelumnya mengantisipasi sell-off signifikan, khususnya pada saham perbankan, namun BMRI dan BBCA justru menguat, mencerminkan positioning investor yang masih konstruktif dalam jangka pendek,” ujar Rully, dilansir dari Antara, Rabu (29/7/26).

Rully menilai respons tersebut mencerminkan pelaku pasar yang belum memberikan reaksi berlebihan terhadap pergantian kepemimpinan di bank sentral. Meski demikian, situasi itu belum dapat diartikan sebagai tanda bahwa seluruh risiko telah hilang.

Seiring meredanya respons awal pasar, perhatian investor diperkirakan akan bergeser pada proses transisi kepemimpinan Bank Indonesia serta kesinambungan kebijakan moneter yang akan diterapkan guna menjaga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan.

“Meski demikian, kami melihat risiko ke depan meningkat, terutama terkait persepsi independensi BI yang berpotensi bergeser ke arah pro-growth. Hal ini dapat memicu volatilitas pada aset domestik,” ujar Rully, dikutip dari Beritasatu.

Rully mengatakan sikap hati-hati investor mulai terlihat dari pergerakan nilai tukar rupiah yang sempat melemah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS sebelum kembali menguat ke kisaran Rp17.900 per dolar AS. Di sisi lain, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke sekitar 7,35 persen, menandakan meningkatnya premi risiko di pasar.

Di sisi lain, Fixed Income Analyst Mirae Asset Jessica Tasijawa menilai pasar obligasi domestik masih dibayangi volatilitas yang cukup tinggi setelah pengumuman pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI).

Ditopang oleh arus dana asing

Sebelum pengumuman pengunduran diri tersebut, pasar obligasi domestik sempat mencatatkan kinerja yang membaik. Perbaikan itu ditopang oleh arus dana asing yang telah mencapai sekitar Rp16 triliun secara year to date (YTD), meningkatnya permintaan dari sektor perbankan, serta dukungan pembelian dari perusahaan asuransi dan dana pensiun di pasar domestik.

Jessica menjelaskan sentimen pasar berubah setelah pengumuman itu disampaikan. Investor mulai mempertanyakan aspek transparansi, kredibilitas, dan tata kelola dalam proses pergantian kepemimpinan Bank Indonesia (BI). Keraguan tersebut memicu kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) sekitar 9 basis poin, sementara nilai tukar rupiah kembali bergerak di kisaran Rp18.000 per dolar AS.

“Kami meyakini kejelasan dan langkah pemerintah dalam proses pengambilan keputusan, khususnya terkait pemilihan Gubernur BI yang baru, akan menjadi faktor yang sangat krusial dalam menentukan arah kebijakan ke depan sekaligus memberikan kepastian bagi pasar Indonesia,” imbuh Jessica.

Meski begitu, Jessica menilai prospek pasar obligasi Indonesia tetap ditopang sejumlah sentimen positif. Faktor-faktor tersebut meliputi tetap dipertahankannya peringkat kredit dan outlook Indonesia oleh S&P Global Ratings, penempatan kembali dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) senilai Rp200 triliun di bank-bank BUMN, realisasi fiskal semester I 2026 yang lebih baik dari perkiraan, serta berlanjutnya aliran dana asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) seiring spread imbal hasil Indonesia yang masih kompetitif. (P-Zamir)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025