Ada 18 RS jadi percontohan, Kemenpar mulai kembangkan wisata kesehatan

Selvijn MJR
Rabu, 29 Juli 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 29/7/26 (Jakarta): Saat ini, pihak Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tengah menyusun sekaligus memperkuat strategi lintas sektor untuk mempercepat pengembangan wisata kesehatan (health tourism) di Indonesia. Langkah ini dilakukan melalui kolaborasi antara sektor pariwisata dan layanan kesehatan guna membangun ekosistem yang terintegrasi lebih solid.

Melalui Pelaksana Tugas Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenpar, Rizki Handayani, Kemenpar menjelaskan kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan pada zaman sekarang terus berkembang. Disebutnya, layanan kesehatan tidak lagi hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga mencakup aspek promotif, preventif, hingga kebugaran.

Rizki menilai, tren tersebut membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menjadikan wisata kesehatan sebagai salah satu produk unggulan pariwisata nasional. Karena itu, sinergi antara industri kesehatan dan pariwisata dinilai perlu diperkuat agar mampu menghadirkan layanan yang saling mendukung.

Terpilih 18 rumah sakit sebagai proyek percontohan di Jabodetabek dan Bali

Adapun pembahasan strategi pengembangan wisata kesehatan telah dilakukan bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta, Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI), Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi), serta sejumlah perwakilan rumah sakit dalam pertemuan yang digelar di Jakarta pada Rabu (22/7/26).

Pada tahap awal, Kemenpar bersama Kemenkes, Persi, dan ARSSI telah memetakan rumah sakit yang berpotensi menjadi destinasi wisata kesehatan.

Berdasarkan hasil pemetaan tersebut, terpilih 18 rumah sakit sebagai proyek percontohan, yang terdiri atas 15 rumah sakit di wilayah Jabodetabek dan tiga rumah sakit di Bali.

Sejumlah rumah sakit yang masuk dalam proyek percontohan antara lain RS Pondok Indah, Hermina Kemayoran, BIMC Nusa Dua, Mayapada Lebak Bulus, Siloam Semanggi, RS Pondok Indah Bintaro, dan Siloam Karawaci.

Masuk dalam katalog wisata kesehatan

Semua rumah sakit tersebut juga akan dimasukkan ke dalam katalog wisata kesehatan yang sedang disusun Kemenpar. Katalog ini ditargetkan rampung pada Oktober 2026 dan akan menjadi salah satu sarana promosi layanan wisata kesehatan Indonesia.

Selanjutnya, dalam proses penyusunannya, setiap rumah sakit akan dipetakan secara menyeluruh, mulai dari profil layanan unggulan hingga penyusunan estimasi paket wisata kesehatan. Selanjutnya, Kemenpar bersama Kemenkes akan melakukan survei lapangan untuk menyusun parameter center of excellence atau pusat keunggulan yang menjadi kekhasan masing-masing rumah sakit.

Pembentukan ekosistem yang terhubung dengan berbagai pelaku industri pariwisata

Mengenai pengembangan wisata kesehatan tidak hanya berfokus pada peningkatan fasilitas layanan medis, tetapi juga pada pembentukan ekosistem yang terhubung dengan berbagai pelaku industri pariwisata.

Adapun kolaborasi tersebut mencakup sektor perhotelan, biro perjalanan wisata, agen perjalanan, penyedia transportasi yang ramah bagi pasien, termasuk kendaraan dengan fasilitas kursi roda, serta perusahaan asuransi dari dalam maupun luar negeri.

“Tahapan ini bagian dari upaya membangun ekosistem wisata kesehatan yang terintegrasi melalui kolaborasi antara fasilitas pelayanan kesehatan, pelaku usaha pariwisata, dan berbagai pemangku kepentingan terkait,” kata Rizki, dikutip dari Antara, Jumat (24/7/26) lalu.

Rumah sakit kembangkan layanan wisata medis. 

Berdasarkan keterangan Direktur Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemenkes, Yanti Herman, rumah sakit yang terpilih sebagai proyek percontohan akan diminta melakukan penilaian mandiri untuk mengukur tingkat kesiapan dalam mengembangkan layanan wisata medis.

Adapun langkah tersebut juga bertujuan memperkuat komitmen rumah sakit dalam meningkatkan mutu pelayanan yang berorientasi pada pengalaman pasien.

Sedangkan rumah sakit yang memenuhi kriteria serta menunjukkan komitmen dalam pengembangan wisata kesehatan, demikian dilansir Beritasatu.com, akan memperoleh berbagai bentuk dukungan, meliputi promosi fasilitas pelayanan kesehatan, pelatihan dan pendampingan menuju standar pelayanan internasional, serta berbagai insentif fiskal maupun nonfiskal. (P-*/se)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025