Bayi tujuh hari telah didaftarkan orang tuanya jadi murid SD

Armin Mandika
Selasa, 28 Juli 2026
KESRA 0 156
3 menit membaca

PRIORITAS, 28/7/26 (Purworejo): SD Muhammadiyah Kutoarjo, Jawa Tengah begitu dipercaya masyakat setempat sebagai tempat bersekolah bagi anak-anaknya. Hal ini telah melahirkan fenomena tidak lazim. Seorang bayi yang baru berusia tujuh hari tercatat telah didaftarkan oleh orang tuanya sebagai calon peserta didik di sekolah tersebut, meski masa masuk sekolahnya masih sekitar enam tahun lagi.

Hal tersebut diungkapkan Kepala SD Muhammadiyah Kutoarjo, Suprayitno, saat menjelaskan tingginya antusiasme masyarakat terhadap sistem pendaftaran inden yang diterapkan sekolah.

Dikatakannya, orang tua rela mendaftarkan anak sejak masih bayi agar tidak kehabisan kuota ketika memasuki usia sekolah dasar. “Bahkan ada anak yang baru berusia tujuh hari sudah didaftarkan oleh orang tuanya. Itu menunjukkan besarnya kepercayaan masyarakat kepada sekolah kami,” kata Suprayitno seperti dikutip Kompas.com, pada Senin (27/7/26).

Menurutnya bayi tersebut didaftarkan pada 27 Mei 2026, sedangkan tanggal kelahirannya tercatat 20 Mei 2026. Kasus tersebut menjadi salah satu contoh tingginya minat masyarakat terhadap SD Muhammadiyah Kutoarjo.

Tak itu saja, , sekolah juga telah menerima pendaftaran calon siswa hingga beberapa tahun ajaran ke depan. Untuk tahun ajaran 2027/2028, kuota telah terpenuhi karena sudah mencapai 168 calon peserta didik. Sementara itu, tahun ajaran 2028/2029 telah memiliki 88 pendaftar, tahun ajaran 2029/2030 sebanyak 32 pendaftar, tahun ajaran 2030/2031 sebanyak 20 pendaftar, tahun ajaran 2031/2032 berjumlah 17 pendaftar dan tahun ajaran 2032/2033 tercatat 4 pendaftar. Pendaftar 4 orang tersebut, bayi yang baru berumur tujuh hari ini termasuk di dalamnya.

Dikatakan Suprayitno, sistem pendaftaran lebih awal atau inden bukan bertujuan mengistimewakan kelompok tertentu, melainkan menjadi bentuk pelayanan kepada masyarakat yang ingin memperoleh kepastian mengenai pendidikan anak mereka.

“Kami membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin mendaftarkan anak lebih awal. Ini merupakan bentuk pelayanan sekaligus respons terhadap tingginya kepercayaan masyarakat kepada sekolah,” jelasnya.

Dijelaskannya, keberhasilan sekolah menarik minat masyarakat tidak terjadi secara instan. Selama bertahun-tahun, SD Muhammadiyah Kutoarjo berupaya membangun budaya pelayanan yang berorientasi pada kepuasan orang tua dan kebutuhan peserta didik.

Dikatakannya, sekolah tidak hanya menitikberatkan pada capaian akademik, tetapi juga pendidikan agama, pembentukan akhlak, pengembangan karakter, serta prestasi siswa di berbagai bidang.

“Kami berusaha memenuhi harapan orang tua. Mereka menginginkan anaknya memiliki prestasi, memiliki bekal agama yang baik, serta akhlak yang mulia. Itu yang terus kami bangun,” urainya.

Bahkan menurutnya, pelayanan kepada orang tua juga diwujudkan melalui komunikasi yang intensif antara sekolah dan wali murid. Tidak hanya kepala sekolah dan guru, tenaga kependidikan hingga petugas keamanan didorong untuk membangun hubungan yang ramah dengan keluarga siswa.

Dimana setiap pagi, guru menyambut kedatangan peserta didik di gerbang sekolah, menyalami mereka, bahkan mengantarkan anak-anak menuju ruang kelas. Menurut Suprayitno, kebiasaan sederhana tersebut menjadi bagian dari budaya pelayanan yang ingin terus dipertahankan.

Tidak hanya itu, SD Muhammadiyah Kutoarjo juga menyediakan layanan antar jemput menggunakan 14 armada yang melayani berbagai wilayah di Kabupaten Purworejo. “Armada tersebut terdiri atas kendaraan milik sekolah maupun hasil kerja sama dengan pihak ketiga,” jelasnya.

Adanya layanan itu dinilai mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi orang tua karena anak dijemput dari rumah dan diantar kembali setelah kegiatan belajar selesai.

Bahkan Suprayitno menambahkan, keberagaman latar belakang siswa juga menjadi nilai lebih bagi sekolah. Peserta didik berasal dari berbagai wilayah dengan kondisi sosial yang berbeda, mulai dari kawasan perkotaan, pedesaan, daerah perbukitan hingga keluarga dengan beragam profesi seperti petani, pedagang, dan nelayan.

Keberagaman tersebut katanya, justru menjadi sarana pembelajaran sosial bagi anak-anak agar mereka belajar menghargai perbedaan sejak usia dini. “Anak-anak memiliki pengalaman hidup yang berbeda-beda. Ketika mereka belajar bersama di sekolah, mereka akan memahami bahwa kehidupan setiap orang tidak sama. Itu menjadi bagian dari pendidikan karakter yang kami tanamkan,” kunciya.(P-*/am)

 

 

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025