Mesir ajukan 5 tuntutan ke FIFA usai kalah dari Argentina, wasit Collina menjawab

Herling Tumbel
Jumat, 10 Juli 2026
BOLA 0 397
4 menit membaca

PRIORITAS, 10/7/26 (Amerika Serikat): Kalah dari Argentina dan merasa diperlakukan tidak adil, Federasi Sepak Bola Mesir (Egyptian Football Association/EFA) mengajukan protes resmi kepada FIFA. Kekalahan dramatis  di Babak 16 Besar Piala Dunia FIFA 2026 itu, otomatis membuat Mesir tersingkir dari ajang kejuaraan dunia sepak bola paling bergengsi itu.

Bagi EFA, kekalahan Mesir 2-3 dari Argentina pada Rabu (Selasa (8/7/26) petang waktu setempat atau Kamis (9/7/26) dini hari WIB itu, digambarkan sebagai “pertandingan yang diwarnai sejumlah keputusan kontroversial dari wasit dan tim Video Assistant Referee (VAR)”.

Presiden EFA, Hany Abou Rida, mengirimkan pengaduan resmi kepada FIFA dengan meminta penyelidikan terhadap wasit asal Prancis, François Letexier, beserta seluruh perangkat pertandingan. Federasi menilai sejumlah keputusan selama laga telah merugikan Mesir dan diduga mempengaruhi hasil akhir pertandingan.

Selain mempersoalkan kepemimpinan wasit, EFA juga menuding adanya penerapan standar yang berbeda dalam penggunaan VAR. Karena itu, “Tuntutan Mesir” tidak hanya berfokus pada evaluasi individu wasit, tetapi juga meminta FIFA meninjau sistem pengambilan keputusan seluruh ofisial pertandingan demi menjaga kredibilitas Piala Dunia.

Kronologi dan alasan tuntutan Mesir

Menurut EFA, salah satu momen paling menentukan terjadi ketika Mostafa Zico mencetak gol yang sempat membuat Mesir unggul. Namun, setelah mendapat masukan dari VAR, wasit François Letexier menganulir gol tersebut karena Marwan Attia dinilai menginjak kaki Lisandro Martínez pada awal proses serangan.

Dilansir dari msn.com, Federasi Mesir juga mempersoalkan insiden lain yang terjadi beberapa detik sebelum Argentina mencetak gol kemenangan. Dalam situasi tersebut, Mohamed Salah diduga dilanggar di dalam kotak penalti Argentina.

EFA menilai wasit seharusnya meninjau insiden tersebut melalui VAR, tetapi pertandingan justru dilanjutkan hingga Argentina melancarkan serangan balik yang berujung gol kemenangan.

Dalam pernyataan resminya, Hany Abou Rida menyebut terdapat kesalahan serius dari tim wasit, penerapan standar ganda dalam pengambilan keputusan, serta keengganan meninjau beberapa insiden penting melalui VAR. Atas dasar itu, federasi meminta FIFA melakukan investigasi menyeluruh.

Pelatih Mesir, Hossam Hassan, turut mengkritik kepemimpinan wasit seusai pertandingan. Ia menilai timnya diperlakukan tidak adil sepanjang laga. Kritik serupa disampaikan Mostafa Zico yang menyebut keputusan perangkat pertandingan merugikan Mesir sejak awal pertandingan.

Diketahui, lima tuntutan EFA kepada FIFA meliputi: Penyelidikan terhadap wasit utama François Letexier, menyelidiki seluruh tim wasit dan petugas VAR, mengusut dugaan standar ganda dalam pengambilan keputusan, meninjau penggunaan VAR yang dinilai tidak tepat, dan mencoret seluruh kru wasit dari sisa Piala Dunia.

EFA menegaskan tidak dapat tinggal diam atas keputusan-keputusan yang terjadi dalam pertandingan tim Mesir melawan Argentina. Federasi berharap FIFA memberikan respons melalui penyelidikan yang independen terhadap seluruh perangkat pertandingan.

Collina dari FIFA merespons

Dikutip dari sumber berita lainnya, goal.com, Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) akhirnya angkat bicara untuk menanggapi gelombang kontroversi besar yang melanda pertandingan antara Mesir dan Argentina di babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Pierluigi Collina, Ketua Komite Wasit FIFA asal Italia yang terkenal karena ketegasannya saat memimpin pertandingan, menanggapi tuduhan tersebut sambil membela wasit Prancis François Letexier dan tim wasitnya.

Colina mengatakan, dalam pernyataan melalui situs resmi FIFA, hari Kamis ini, “Mari kita mulai dengan mengatakan bahwa sejauh ini kami telah memainkan sejumlah pertandingan yang meningkat sebesar 50% dibandingkan Piala Dunia Qatar 2022, dan masih ada 8 pertandingan besar yang tersisa.”

Ia menambahkan, “Secara umum, kami puas dengan kualitas wasit, tetapi dengan banyaknya pertandingan dalam waktu singkat, wajar jika tidak semua hal selalu berjalan sesuai harapan. Ketika hal itu terjadi, para wasit akan lebih bersemangat untuk bekerja lebih keras agar siap menghadapi pertandingan berikutnya.”

Colina  melanjutkan, diskusi konstruktif mengenai keputusan wasit akan selalu menjadi bagian dari sepak bola. “Namun tuduhan yang tidak didasarkan pada bukti apa pun tidak memiliki tempat dalam olahraga kami,” lanjutnya.

Wasit yang dikenal karena ketegasannya di lapangan itu menekankan bahwa integritas wasit tidak boleh dipertanyakan. “Tidak ada seorang pun yang berhak meragukan integritas wasit Piala Dunia. Ketika terjadi, hal itu dapat memicu reaksi yang berujung pada ancaman terhadap wasit dan anggota keluarga mereka, dan ini tidak dapat diterima,” ujar Colina.

“Tidak ada seorang pun yang dapat mengklaim bahwa Komite Wasit FIFA terpengaruh oleh pihak mana pun, bahkan oleh Presiden FIFA Gianni Infantino sendiri. Beliau selalu memberikan dukungan penuh kepada kami, dengan keyakinan bahwa kami bekerja secara sepenuhnya independent,” tambahnya.

“Wasit mengambil keputusan dengan jujur, dan seperti halnya para pemain dan pelatih, mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik,” ujar Collina. (P-*/ht)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025