
Inilah spesifikasi ‘drone Shahed-136’ buatan Iran yang dipaparkan Badan Distribusi Informasi Visual Pertahanan (DVIDS) Amerika Serikat, dari puing-puing yang diambil Angkatan Laut AS pada 16 November 2022. (‘Courtesy’ Kompas.com/DVIDS via AFP)PRIORITAS, 7/5/26 (Beijing): Informasi terkini yang didapat Beritaprioritas.com, mengungkapkan, ternyata sejumlah perusahaan China dilaporkan memasok komponen penting yang dapat digunakan untuk memproduksi drone tempur Iran, ‘Shahed’. Dan yang lebih mengagetkan, komponen-komponen itu merupakan buatan Barat (Amerika Serikat/AS dan sejumlah negara Eropa) yang ‘transit’ di China, lalu dikirim ke Iran, juga Rusia.
Dilaporkan pula, pada Selasa (5/4/26) lalu, di tengah serangan militer antara pihak-pihak yang bertikai, sebuah email dari perusahaan China, Xiamen Victory Technology, menawarkan penjualan mesin buatan Jerman yang digunakan untuk menggerakkan drone serang satu arah ke Iran.
Diketahui, mesin tersebut, Limbach L550, menjadi komponen penting dalam drone Shahed-136 milik Iran itu.
Disebutkan, dalam pesannya, sebagaimana dilaporkan The Wall Street Journal, perusahaan itu menyatakan, “Kami sangat terkejut dan marah atas agresi terhadap Iran, dan hati kami bersama Anda.”
Bahkan penawaran itu menampilkan gambar drone bergaya ‘Shahed’ di situs mereka, disertai slogan inovasi mesin penerbangan terkini.

Penampakan ‘drone Shahed-136’ milik Iran. (‘Courtesy’ Kompas.com/Wikimedia Commons)
Dilakukan terang-terangan
Sementara itu, seorang peneliti dari Wisconsin Project on Nuclear Arms Control, John Caves, mengatakan, “Mereka secara aktif mencoba menjual mesin Limbach L550 ke Iran—dan melakukannya dengan cukup terang-terangan.”
Tetapi, perwakilan perusahaan yang mengidentifikasi diri sebagai Kristoff Chen mengeklaim, pihaknya belum mengekspor mesin tersebut ke Iran maupun Rusia.
Malah ia berkilah, menyebut email itu dibuat menggunakan kecerdasan buatan untuk menjangkau klien luar negeri.
Kini rantai pasoknya sulit dibendung
Di pihak lain, data bea cukai China menunjukkan, perusahaan-perusahaan di negara itu mengirim ratusan kontainer berisi barang “dual-use” ke Iran dan Rusia langsung.
Disebutkan, barang tersebut mencakup mesin, chip komputer, kabel serat optik, hingga giroskop—komponen yang dapat digunakan untuk kebutuhan sipil maupun militer sekalipun.
Sementara menurut pejabat dan analis, sebagian eksportir sebelumnya sengaja salah memberi label pada pengiriman untuk menghindari sanksi dan hukuman keras.
Tetapi kini, dalam banyak kasus, praktik tersebut tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
China titik transit bagi komponen Barat
Selanjutnya, mantan pejabat Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) menyebut China telah lama menjadi titik transit bagi komponen buatan Barat yang kemudian dialihkan ke pabrik drone di Iran dan Rusia secara langsung.
Saat ini, komponen tersebut semakin banyak diproduksi langsung di dalam negeri China, terutama oleh perusahaan kecil yang tidak terlalu khawatir terhadap sanksi Barat (AS dan sekutunya).
“Mereka membiarkan aliran itu terus berlangsung bahkan ketika perannya sudah berulang kali terungkap dalam laporan publik dan penetapan sanksi,” ungkap Miad Maleki, mantan pejabat yang menangani program sanksi ini.
“Mereka tidak peduli atau memilih untuk tidak ikut campur.”
‘Drone Shahed’ dan peran pentingnya
Sementara itu, ‘drone Shahed’ menjadi perhatian utama AS karena kemampuannya menjangkau hingga sekitar 1.000 mil dengan hulu ledak, serta biaya produksi yang relatif murah, sekitar 20.000 hingga 50.000 dollar AS (sekira Rp346 juta hingga Rp867 juta).
Terbukti pula, drone ini efektif menembus atau menghindari pertahanan udara.
Sebagaimana dalam investigasi sebelumnya, ditemukan versi awal ‘drone Shahed’ menggunakan berbagai komponen dari AS dan Eropa yang dialihkan melalui distributor resmi ke China atau Hong Kong, sebelum akhirnya dikirim ke Iran atau Rusia.
Sementara itu, pembayaran sering dilakukan melalui perusahaan cangkang di Hong Kong untuk menyamarkan tujuan akhir pengiriman ini.
Kendati jaringan tersebut telah dikenai sanksi, jaringan baru bermunculan terus.
Lonjakan ekspor dari China
Selanjutnya, data perdagangan menunjukkan lonjakan ekspor dari China untuk barang-barang yang relevan dengan teknologi drone.
Seperti ekspor kabel serat optik dan baterai lithium-ion meningkat tajam, seiring penggunaan drone dalam konflik itu.
Adapun seorang peneliti dari Atlantic Council, Joseph Webster, mengatakan, “Hampir tidak ada penjelasan yang masuk akal selain bahwa ini digunakan untuk kepentingan militer. Ini sangat terang-terangan.”
Kemudian lonjakan serupa juga terlihat pada ekspor ke Iran setelah konflik dengan Israel, yang diikuti penggunaan drone oleh kelompok yang didukung Iran dalam serangan terhadap target militer.
Ini respons China
Lantas, menanggapi tudingan tersebut, Kementerian Luar Negeri China menyatakan, pihaknya secara konsisten mengontrol ekspor barang “dual-use” sesuai hukum dan kewajiban internasional.
Tetapi, dikutip Kompas.com, pejabat AS mengakui sulit menghentikan aliran komponen tersebut sepenuhnya.
Karenanya, sebagai alternatif, Washington berupaya menekan sumber pendanaan Iran, termasuk dengan menargetkan pembeli dan pengangkut minyaknya.
“Kami fokus pada pendapatan, karena ketika kami memotong sumber utamanya, di situlah kami bisa memberikan dampak jangka panjang,” ujar seorang pejabat AS, dikutip media. (P-*r/Kps/jr)