26.8 C
Jakarta
Sunday, August 31, 2025

    Sinode GPIB: Aksi demo cerminan keprihatinan rakyat atas kondisi bangsa

    Terkait

    PRIORITAS, 30/08/25 (Jakarta) : Majelis Sinode (MS) Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi Indonesia akhir-akhir ini dan menilai aksi yang terjadi adalah cermin keprihatinan rakyat.

    Aksi unjuk rasa di berbagai daerah yang telah menelan menewaskan pengemudi ojek online (Ojol) Affan Kurniawan, adalah cerminan kekecewaan rakyat atas kondisi yang kian sulit. Kenaikan harga kebutuhan pokok, turunnya penghasilan masyarakat, dan semakin sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan, menjadi pemicunya.

    Dalam situasi sulit seperti itu, kebijakan para pemimpin politik, termasuk DPR RI, justru mengesankan kurang pekanya atas kesulitan dan penderitaan rakyat. Gap antara aspirasi rakyat dan sikap elite politik, makin lebar saja.

    “Gereja memandang suara rakyat melalui demonstrasi, bagian dari dinamika demokrasi yang harus dihargai dan ditanggapi secara bijaksana, bukan dengan tindakan yang menimbulkan korban dan memperlebar luka sosial,” begitu pernyataan sikap MS GPIB seperti dirilis brif.id, Jumat (29/8/25).

    MS GPIB menyatakan, sebagai gereja yang hadir di tengah dinamika kebangsaan, tugas gereja adalah menghadirkan damai sejahtera Allah di tengah masyarakat serta mengingatkan bahwa kekuasaan adalah amanah yang harus dijalankan dengan rendah hati, adil, dan berpihak pada kehidupan bersama.

    MS GPIB yang dipimpin Pendeta Drs Paulus Kariso Rumambi MSi mengungkapkan lima aspek yang menjadi keprihatinan mendalam.

    * Menyatakan duka dan keprihatinan mendalam atas jatuhnya korban jiwa dalam aksi demonstrasi.

    “Kami berdoa bagi keluarga yang ditinggalkan agar diberikan kekuatan dan penghiburan dari Tuhan,” kata pernyataan sikap MS GPIB.

    * Mengajak pemerintah dan DPR RI untuk lebih mendengar suara rakyat serta menunjukkan kepekaan moral dalam setiap keputusan yang diambil, sehingga kebijakan publik benar-benar menjadi sarana meringankan beban rakyat, bukan menambah kesulitan.

    * Mendorong aparat keamanan untuk menempatkan diri sebagai pengayom masyarakat, serta menangani aspirasi rakyat dengan cara yang humanis, dialogis, serta berorientasi pada kasih dan  perdamaian.

    “Peristiwa yang terjadi hendaknya menjadi momentum untuk melakukan pembenahan menyeluruh dalam tubuh kepolisian, agar semakin dipercaya dan dicintai rakyat,” demikian bunyi pernyataan sikap MS GPIB.

    * Mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan dinamika ini sebagai kesempatan memperbaiki arah demokrasi Indonesia. Sebab, demokrasi sejati bukan sekadar prosedur politik, melainkan penghargaan terhadap martabat manusia, penghormatan terhadap kebebasan berpendapat, serta perwujudan keadilan sosial.

    * Menegaskan kembali panggilan gereja dan lembaga agama untuk terus berdiri di sisi mereka yang lemah, menyuarakan kebenaran dalam kasih, serta mendorong kehidupan bersama yang ditandai oleh perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan.

    Jajaran MS GPIB percaya bahwa bangsa Indonesia dikaruniai potensi besar untuk bangkit dari kesulitan. Namun kebangkitan itu hanya mungkin terjadi bila seluruh komponen bangsa—pemerintah, DPR, aparat keamanan, masyarakat sipil, dan lembaga agama – bersama-sama mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan golongan.

    “Kiranya Allah, Sang Sumber Kehidupan, menolong bangsa ini menapaki jalan kebenaran, keadilan, dan kasih, sehingga Indonesia dapat terus melangkah menuju masa depan yang lebih baik, damai, dan sejahtera bagi seluruh rakyat,” demikian pernyataan sikap MS GPIB.

    Jajaran Fungsionaris MS GPIB terdiri atas Ketua Umum Pendeta Drs Paulus Kariso Rumambi, M.Si, Pendeta Marthen Leiwakabessy, S.Th (Ketua I), Pendeta Manuel Essau Raintung, S.Si. M.M (Ketua II), Pendeta Maureen Suzanne Rumeser – Thomas, M.Th (Ketua III), Penatua Shirley Maureen van Houten-Sumangkut, M.M (Ketua IV), dan Penatua Robynson Letunaung Wekes, S.H, M.M, MBA (Ketua V).

    Selanjutnya, Pendeta Elly Dominggas Pitoy – de Bell, STh (Sekretaris Umum),  Pendeta Emmawati Yulia Rumampuk-Baule, S.Th, M.Min (Sekretaris I), Penatua Ivan Gelium Lantu S.H, M.Kn (Sekretaris II), Penatua Eddy Maulana SoeiNdoen, S.E (Bendahara), dan selaku Bendahara I Penatua Wicklief F. Luwy Leunufna S.Hut.(P/r*-brf/dg)

    Viral

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Headline News

    spot_img

    Terkini