BI perkuat strategi untuk menstabilkan Rupiah, aliran modal asing dibidik

Zamir Ambia
Rabu, 22 Juli 2026
EKBIS NEWS 0 205
2 menit membaca

PRIORITAS, 22/7/26 (Jakarta): Nilai tukar rupiah kembali menguat ke level Rp17.885 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (21/7/26), setelah mengalami tekanan sejak akhir Juni 2026 akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah serta menguatnya ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve (fed fund rate/FFR).

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan kurs rupiah terhadap dolar AS tetap terjaga dan relatif stabil dibandingkan posisi akhir Juni 2026 di level Rp17.880 per dolar AS. Untuk mempertahankan stabilitas tersebut, BI terus mengoptimalkan langkah intervensi melalui pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri (offshore), serta transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik.

“Suku bunga sekuritas rupiah Bank Indonesia (SRBI) dinaikkan untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Perry Warjiyo, Rabu (22/7/26).

Di sisi lain, kepemilikan investor nonresiden pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) meningkat dari Rp238,09 triliun per 15 Juni 2026 menjadi Rp288,65 triliun pada 20 Juli 2026, atau setara 27,11 persen dari total outstanding SRBI.

Memberikan insentif

Bank Indonesia turut mengoptimalkan berbagai instrumen moneter, termasuk memberikan insentif berupa penurunan biaya swap lindung nilai (hedging swap) sebesar 10 persen bagi investor asing. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan daya tarik investasi di pasar domestik sekaligus mengurangi beban kewajiban yang selama ini ditanggung investor asing.

“Bank Indonesia juga memperluas instrumen operasi moneter valuta asing dengan instrumen spot dan swap dalam valuta offshore Chinese renminbi (CNH) terhadap rupiah sejalan dengan meluasnya penggunaan mata uang lokal (local currency transaction/LCT) untuk penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi,” tuturnya.

Perry mengatakan Bank Indonesia akan terus memperluas pemberian insentif guna menjaga daya tarik aliran modal asing sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Menurutnya, rupiah diperkirakan tetap stabil dan berpotensi menguat, ditopang komitmen BI dalam memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar, imbal hasil aset domestik yang kompetitif, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap solid. (P-*r/Zamir Ambia)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025