PRIORITAS, 28/3/25 (Brussels): Berdasarkan informasi yang diterima Beritaprioritas.com, Jumat (28/3/25), Uni Eropa mengimbau masyarakat untuk mempersiapkan diri menghadapi krisis. Masyarakat diminta menimbun makanan dan perlengkapan penting yang cukup untuk bertahan setidaknya selama tiga hari dalam keadaan darurat seperti perang atau bencana.
Disebutkan, Komisi Eropa menerbitkan strategi respons koalisi, sebuah dokumen panduan setebal 18 halaman yang menyoroti meningkatnya risiko dan ketidakpastian di Eropa.
Faktor utama yang menjadi perhatian ialah konflik Rusia-Ukraina, ketegangan geopolitik, sabotase infrastruktur vital, serta ancaman perang elektronik.
Diketahui, dengan meningkatnya ketegangan global dan potensi ancaman terhadap stabilitas Uni Eropa, kesiapsiagaan menjadi aspek krusial bagi setiap individu dan pemerintah dalam menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.
“Uni Eropa menghadapi ancaman yang lebih kompleks dan saling terkait dibanding sebelumnya,” ujar Komisaris Uni Eropa untuk Manajemen dan Kesiapsiagaan Krisis, Hadja Lahbib saat memperkenalkan strategi tersebut, Rabu (26/3/25) waktu setempat.
Hadapi situasi darurat
Berdasarkan dokumen tersebut, masyarakat di negara-negara Uni Eropa (UE) dianjurkan untuk mengambil langkah-langkah pencegahan guna menghadapi situasi darurat. Mereka disarankan untuk menimbun makanan, air, obat-obatan, senter, dokumen identitas, serta radio gelombang pendek yang dapat membantu dalam keadaan darurat.
“Jika terjadi gangguan serius, tahap awal sangatlah krusial,” bunyi dokumen tersebut.
Lahbib menegaskan, tujuan dari penerbitan dokumen ini bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan memastikan masyarakat memiliki persediaan yang cukup untuk bertahan dalam keadaan darurat.
Di samping persiapan individu, Uni Eropa juga berencana membangun cadangan strategis yang mencakup sumber daya penting seperti pesawat pemadam kebakaran, obat-obatan, peralatan transportasi, generator, serta peralatan khusus untuk menangani ancaman kimia, biologi, dan radiologi.
Selanjutnya, Komisi Eropa juga menekankan pentingnya edukasi terkait kesiapsiagaan krisis dengan memasukkan keterampilan mengatasi masalah dalam kurikulum sekolah. Siswa akan dilatih untuk mengenali dan membedakan berita palsu yang dapat memperburuk situasi krisis.
Dokumen ini merupakan bagian dari upaya Uni Eropa untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapan negara-negara anggota terhadap situasi keamanan yang semakin menantang. Komisi menekankan perlunya mengubah pola pikir masyarakat dan pemerintah guna membangun budaya kesiapsiagaan dan ketahanan.
“Realitas baru ini menuntut tingkat kesiapan yang lebih tinggi di Eropa,” kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. “Warga negara, negara anggota, dan pelaku bisnis di UE harus memiliki alat yang tepat untuk mencegah krisis dan merespons dengan cepat saat bencana terjadi,” lanjutnya.
Penerbitan panduan ini juga mengikuti langkah beberapa negara anggota UE yang telah lebih dulu menerapkan strategi tanggapan serupa seperti dikutip dari Beritasatu.com. Sebagai contoh, pada Juni 2024, pemerintah Jerman memperbarui arahan kerangka kerja tentang pertahanan bersama untuk memperjelas langkah-langkah yang harus diambil jika terjadi konflik di Eropa.
Menteri Dalam Negeri Jerman Nancy Faeser menegaskan bahwa pedoman tersebut sangat penting untuk melindungi negara dari risiko konflik yang semakin nyata. (P-wr)