Paetongtarn during proceedings at the Constitutional Court earlier in August(PHOTO/BBC).
PRIORITAS, 29/8/25 (Thailand): Karier politik Paetongtarn Shinawatra runtuh setelah percakapan teleponnya bocor ke publik. Dalam percakapan itu, ia menyebut cara pemerintah Kamboja menggunakan media sosial untuk menyampaikan argumen sebagai tindakan tidak profesional.
Komentar ini membuat Perdana Menteri Hun Sen tersinggung, menyebutnya penghinaan besar, dan akhirnya membongkar hubungan dekatnya dengan keluarga Shinawatra. Keputusan Hun Sen memutus persahabatan tersebut justru memicu krisis politik di Thailand dan memperparah ketegangan di perbatasan. Sebulan lalu, konflik itu berubah menjadi perang selama lima hari yang menewaskan lebih dari 40 orang.
Sesuai konstitusi, perdana menteri baru hanya bisa dipilih dari daftar terbatas yang sudah diajukan partai sebelum pemilu. Pheu Thai kini terdesak karena dua kandidat sebelumnya sudah gugur, termasuk Srettha Thavisin yang diberhentikan pengadilan.
Satu-satunya nama tersisa adalah Chaikasem Nitisiri, tokoh senior yang sakit-sakitan dan minim pengaruh. Alternatif lain, Anutin Charnvirakul dari Partai Bhumjaithai, juga sulit diandalkan karena hubungannya dengan Pheu Thai retak setelah keluar dari koalisi.
Situasi makin rumit karena People’s Party, partai terbesar di parlemen dengan 143 kursi, menolak bergabung dalam koalisi apa pun dan memilih tetap oposisi sampai pemilu baru digelar.
Secara logika, pemilu ulang tampak sebagai solusi, tetapi Pheu Thai menolak. Selama dua tahun berkuasa, mereka gagal menepati janji menghidupkan kembali ekonomi. Program andalan, dompet digital berisi 10.000 baht untuk tiap warga dewasa, terhenti dan dianggap tidak efektif.
Rencana besar lain, seperti legalisasi kasino dan proyek “land bridge” penghubung Samudra Hindia dengan Pasifik, juga mandek.
Paetongtarn sendiri dianggap kurang pengalaman dan gagal menunjukkan kepemimpinan kuat. Banyak warga beranggapan keputusan penting tetap dikendalikan ayahnya, Thaksin Shinawatra.
Namun, pengaruh Thaksin pun meredup. Strategi populisnya tak lagi menarik, programnya mandek, dan krisis ekonomi memperburuk citra Pheu Thai.
Di tengah sentimen nasionalis yang meningkat akibat perang perbatasan dengan Kamboja, hubungan lama keluarga Shinawatra dengan Hun Sen kini justru menimbulkan kecurigaan kelompok konservatif. Mereka menilai keluarga ini lebih mementingkan urusan pribadi dibanding kepentingan nasional seperti dilansir dari BBC.
Popularitas Pheu Thai merosot tajam, dan partai yang dulu tak terkalahkan ini berpotensi kehilangan banyak kursi jika pemilu diadakan sekarang. Setelah lebih dari dua dekade menjadi kekuatan dominan di politik Thailand, masa kejayaan mereka tampak sulit untuk kembali. (P-Gio R)