31.4 C
Jakarta
Saturday, August 30, 2025

    Bukit Bowongsoro: Dari legenda burung raksasa hingga jejak leluhur Sangihe

    Terkait

    PRIORITAS, 28/8/25 (Sangihe): Pagi baru saja merekah di Kampung Bentung, Kecamatan Tabukan Selatan. Perahu-perahu nelayan mulai satu per satu berlayar dari bibir Pantai Nagha, sementara anak-anak berlarian di jalan kampung, menunggu bel sekolah berbunyi. Di balik keseharian sederhana itu, berdiri sebuah bukit yang tak pernah sepi dari cerita: Bowongsoro.

    Bagi orang luar, Bowongsoro tampak seperti bukit biasa. Namun, bagi warga Bentung, bukit ini adalah cahaya masa lalu, warisan leluhur yang meneguhkan identitas mereka sebagai orang Sangir.

    Adalah Joksan Samatara, guru sejarah di SMA Negeri 1 Tabukan Selatan, yang dikenal sebagai penjaga kisah Bowongsoro. Lelaki paruh baya yang akrab disapa Bapak Sam ini selalu punya cara membuat sejarah terasa dekat.

    “Kalau hanya lewat buku, murid-murid cepat lupa. Tapi kalau mereka lihat dan sentuh tanah ini, mereka bisa merasakan apa artinya sejarah,” katanya sembari menunjuk bukit hijau yang berdiri gagah di belakang kampung.

    Dikutip dari laman Beritasatu.com, sejak 2016, Joksan sudah melaporkan keberadaan Bowongsoro ke Balai Arkeologi Sulawesi Utara. Kajian awal memperkirakan situs ini sudah ada sejak abad ke-13. Namun bagi Bapak Sam, usia hanyalah angka. Yang terpenting adalah makna.

    “Ini bukan hanya batu atau tanah. Ini cerita leluhur kita, yang mengingatkan siapa kita,” ucapnya lirih.

    Nama Bowongsoro berasal dari bahasa Sangir: bowong berarti gunung, soro berarti lampu. Legenda turun-temurun bercerita tentang seekor burung raksasa yang bersarang di bukit ini. Ketika paruhnya mengatup, kilatan cahaya memancar, menerangi seluruh kampung.

    “Orang tua dulu bilang, cahaya itu tanda berkat dan perlindungan,” tutur Martha Langi, seorang oma berusia 72 tahun yang duduk di teras rumahnya sambil menenun kain tradisional.

    “Kalau ada anak-anak nakal, biasanya diceritakan tentang burung Bowongsoro biar mereka ingat untuk tidak berbuat sembarangan.”

    Di puncak bukit, berdiri sebuah makam batu dengan empat penanda. Warga percaya, itu adalah makam Maneke Nusa, tokoh penakluk wilayah sekaligus leluhur orang Sangir.

    Tak jauh dari sana, di lereng bukit, ada sumur berbentuk bulan sabit. Konon, sumur itu bisa memunculkan air bila dilakukan ritual tertentu. Meski jarang dipakai lagi, sebagian orang tua kampung masih mendatanginya dengan takzim.

    “Kadang kalau ada acara adat, kami naik ke sana, berdoa, sambil mengingatkan anak-anak muda tentang asal-usul kita,” kata Elias Langi, tokoh adat Bentung.

    Bentung tak hanya menyimpan kisah leluhur, tapi juga jejak kolonialisme. Di pesisir Pantai Nagha, pernah berdiri pelabuhan besar yang digunakan Belanda untuk masuk ke Sangihe. Kini, hanya pasir putih dan debur ombak yang tersisa. Namun, bagi warga, setiap angin laut seakan membawa kembali bayangan masa lalu.

    Meski hidup di era digital, sebagian anak muda Bentung masih merasa dekat dengan Bowongsoro. Rendy Makalehi, mahasiswa asal kampung itu, mengaku sering naik ke bukit saat pulang liburan.

    “Rasanya beda kalau berdiri di puncak Bowongsoro. Kita bisa lihat laut, kampung, dan rasanya bangga. Itu bikin saya yakin, kita orang Sangir punya warisan yang tidak boleh hilang,” ujarnya.

    Namun, tak semua anak muda mengenalnya. Banyak yang justru lebih akrab dengan layar ponsel daripada dengan bukit yang menjadi asal-usul identitas mereka. Kekhawatiran inilah yang membuat Bapak Sam tak pernah lelah bercerita.

    “Kalau tidak ada perhatian dari pemerintah, situs ini bisa saja rusak atau dilupakan. Padahal ini bukti peradaban masyarakat Sangir,” tegas Sam.

    Ia berharap Bowongsoro bisa ditetapkan sebagai situs cagar budaya agar terlindungi secara hukum dan mendapat perhatian untuk perawatan.

    Bagi warga Bentung, Bowongsoro adalah cahaya yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Di tengah gempuran modernitas, bukit ini menjadi pengingat bahwa identitas mereka berpijak pada warisan leluhur.

    Seperti kata Oma Martha sebelum menutup percakapan: “Selama Bowongsoro masih berdiri, selama itu pula kita masih tahu siapa diri kita.” (P-bwl)

    Viral

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Headline News

    spot_img

    Terkini