28.1 C
Jakarta
Saturday, August 30, 2025

    Militan Hamas bujuk Israel tangguhkan perang besar di Jalur Gaza

    Terkait

    PRIORITAS, 17/8/25 (Tel Aviv): Militan Hamas coba membujuk agar Israel menangguhkan serangan besar-besaran untuk menaklukkan seluruh Jalur Gaza, dengan menawarkan kesepakatan parsial untuk membebaskan para sandera yang masih mereka tawan.

    Kabinet Perang Israel akhir pekan lalu sudah menyetujui dan memberi mandat kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, untuk melakukan serangan habis-habisan ke sisa wilayah pertahanan militan Hamas di Jalur Gaza.

    Seperti dikutip Beritaprioritas.com dari Ynetnews, hari Minggu (17/8/25), serangan tersebut direstui untuk membawa pulang sisa sandera dalam keadaan hidup maupun mati.

    Israel mengakui selama ini militan Hamas sengaja mengulur-ulur waktu dengan berbagai alasan perundingan gencatan senjata untuk membebaskan para sandera, yang telah berkali-kali gagal. Gencatan senjata Israel dan militan Hamas terakhir terjadi Januari 2025 lalu.

    Semua pasukan Israel di bawah komando Angkatan Bersenjata Israel (IDF), sudah mendapat pemberitahuan untuk bersiap melakukan perang besar-besaran di Jalur Gaza.

    Unit cadangan pasukan Israel, juga telah menerima pemberitahuan dalam 48 jam terakhir, yang mengingatkan mereka untuk bersiap dipanggil bertugas bulan depan.

    Bisa September

    Menurut sejumlah sumber, operasi mematikan Israel ini diperkirakan digelar awal atau pertengahan bulan September, karena militer berusaha memberi waktu bagi pasukan untuk beristirahat dan memulihkan diri, sebelum memulai fase perang berikutnya.

    Serangan habis-habisan pasukan Israel ini, akan menyasar daerah sekitar Deir Al Balah dan Khan Younis di selatan kota Gaza, yang menurut intelijen menjadi lokasi militan Hamas menahan para sandera di sejumlah torowongan bawah tanah.

    Kemungkinan kecil terjadi perubahan pada jadwal,  saat milter Israel mulai bergerak maju sesuai dengan rencana.

    Sebelum serangan besar, militer Israel juga kemungkinan akan berupaya memindahkan hampir satu juta warga sipil dari Kota Gaza dan daerah sekitarnya ke daerah kemanusiaan di Selatan.

    Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya berencana mengambil alih kendali penuh atas seluruh Jalur Gaza demi menghancurkan semua militan Hamas.

    Netanyahu mengatakan, setelah militan Hamas dilumpuhkan, pemerintahan di Jalur Gaza akan diserahkan kepada pasukan Arab yang dianggap bersahabat.

    Hingga saat ini perang di Jalur Gaza sudah berlangsung 22 bulan. Israel telah menguasai sekitar tiga perempat wilayah Gaza yang sebagian besar telah hancur.

    Militan Hamas panik

    Militan Hamas dikabarkan mulai panik setelah Israel memutuskan untuk melakukan serangan ke sejumlah markas terakhir mereka, tanpa menghiraukan nasib para sandera.

    Karena itu, militan Hamas melakukan manuver meminta Mesir dan Qatar untuk membujuk Israel agar tidak menyerang habis-habisan Jalur Gaza.

    Militan Hamas melunakkan pendiriannya terkait kesepakatan penyanderaan parsial. Para mediator Mesir dan Qatar mengatakan militan Hamas kini bersedia membahas kesepakatan pembebasan sandera.

    Menyusul perubahan ini, Mesir dan Qatar telah mengusulkan untuk melanjutkan perundingan, sekitar tiga minggu setelah gagalnya negosiasi di Doha.

    Meskipun begitu, Israel masih tak menggubrisnya. Beberapa pejabat Israel malah memperingatkan hal itu, bisa menjadi taktik mengulur waktu.

    Beberapa pihak di Israel menyebut kelompok teror Hamas itu sebelumnya telah menipu Israel dan para mediator. “Kini mereka sekali lagi mencoba mengulur waktu, kali ini untuk mencegah Israel melanjutkan rencana merebut Kota Gaza”, kata pejabat Israel.

    Sulit tercapai

    Pihak lain dalam tim negosiasi berpendapat Israel tidak boleh mengabaikan perundingan demi kesepakatan parsial, yang berpotensi menyelamatkan nyawa sekitar 10 sandera yang masih hidup. Posisi ini didukung Ketua Dewan Keamanan Nasional, Tzachi Hanegbi.

    Sedangkan Kepala Intelijen Israel Mossad,  David Barnea,  dua hari lalu sudah mengatakan kepada Perdana Menteri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, kesepakatan parsial yang ditawarkan militan Hamas tidak mungkin tercapai.

    Penentang lain dari kesepakatan parsial adalah Menteri Urusan Strategis, Ron Dermer, yang telah memimpin tim negosiasi selama hampir enam bulan.

    Ia mengisyaratkan Amerika Serikat sedang menyusun rencana, untuk mengakhiri perang dan mengharapkan kesepakatan komprehensif yang akan membebaskan semua sandera.

    Para pejabat Israel menilai militan Hamas enggan menerima usulan Mesir untuk kesepakatan komprehensif. Kesepakatan itu mencakup pembongkaran kemampuan militer militan Hamas dan komitmen untuk tidak berperan dalam pemerintahan Gaza di masa mendatang.

    “Hamas ragu-ragu — dan tiba-tiba mereka membicarakan kesepakatan parsial. Kita sudah pernah melihat hal seperti ini sebelumnya”, ujar seorang sumber di Yerusalem. (P-Jeffry W)

    Viral

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Headline News

    spot_img

    Terkini