
Pengurus Primer Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (PrimKopti) Ciamis menimbang kedelai impor di gudang PrimKopti, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Senin (13/4/26). (Dok/Media Indonesia)PRIORITAS, 21/7/26 (Jakarta): Wakil Menteri Koperasi (Wamenkop) Farida Farichah mendorong Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) memperkuat rantai pasok kedelai impor agar pasokan bahan baku bagi perajin tempe dan tahu tetap terjaga di tengah potensi ketidakpastian ekonomi.
Farida menjelaskan permintaan tempe dan tahu di pasar domestik terus tinggi. Karena itu, tantangan utama pelaku usaha bukan terletak pada sisi permintaan, melainkan pada pasokan bahan baku kedelai yang hingga kini masih bergantung pada impor.
“Karena ketergantungan bahan baku dari impor sangat tinggi, maka Gakoptindo beserta dengan seluruh stakeholder lainnya perlu menata rantai pasok bahan baku agar saat terjadi gejolak ekonomi tidak ada anggota yang tidak mendapatkan bahan bakunya,” ucap Farida saat menghadiri Rapat Anggota Tahunan Gakoptindo di Salatiga, Selasa (21/7/26), dikutip dari keterangan pers.
Menurut Farida, tempe dan tahu menjadi salah satu sumber protein nabati yang dikonsumsi hampir seluruh lapisan masyarakat karena harganya terjangkau.
Karena itu, Farida menegaskan para perajin tidak perlu mengkhawatirkan permintaan pasar. Menurutnya, fokus utama saat ini ialah memperkuat rantai pasok kedelai sebagai bahan baku utama produksi.
Farida juga menilai Gakoptindo perlu memaksimalkan fungsinya sebagai wadah bagi perajin tempe dan tahu untuk berbagi gagasan, pengalaman, serta meningkatkan mutu hasil produksi.
Di samping itu, koperasi diharapkan berperan sebagai pendamping bagi anggotanya dalam menyelesaikan berbagai kendala usaha, terutama terkait ketersediaan pasokan kedelai.
Ia menambahkan pemerintah akan terus berupaya mengurangi dampak ketergantungan terhadap kedelai impor melalui penyediaan berbagai kemudahan dan fasilitas guna mendukung keberlangsungan usaha para perajin.
Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah ialah menjalankan program Bantuan Stabilisasi Harga dan Pasokan (SPHP) kedelai sebagai bagian dari paket stimulus ekonomi pada semester II 2026.
Pemerintah memberikan subsidi
Melalui program tersebut, pemerintah memberikan subsidi sebesar Rp2.000 per kilogram bagi perajin tahu dan tempe dengan kuota awal 250.000 ton serta dukungan anggaran sekitar Rp500 miliar.
“Pemerintah pusat terus berupaya untuk memberikan kemudahan-kemudahan dengan memberikan fasilitas-fasilitas yang mampu kami berikan untuk menggerakkan ekonomi di tingkat bawah dan pada akhirnya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Selain memperkuat rantai pasok, Farida menilai penguatan kelembagaan Gakoptindo juga perlu menjadi perhatian agar penyaluran berbagai insentif dari pemerintah dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.
Ia menegaskan koperasi perlu dikelola secara profesional dengan menerapkan prinsip tata kelola yang baik, sehingga seluruh anggota dapat memperoleh manfaat dari berbagai program pemerintah. (P-*r/Zamir Ambia)