Nah! Indonesia dapat minyak dari Afrika dan Amerika Latin, tak masalah Selat Hormuz ditutup

Jeffrey Rawis
Minggu, 14 Juni 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 14/6/26 (Jakarta): Indonesia kini sudah mendapat banyak pasokan minyak dari negara-negara Afrika, sehingga tidak terlalu memusingkan penutupan Selat Hormuz. Bahkan, Indonesia juga sedang bernegosiasi dengan Venezuela dan negara Amerika Latin lainnya terkait pasokan Migas. Dan pasokan minyak itu bisa didapat tanpa perlu harus melintasi Selat Hormuz.

“Kalau mengenai masalah minyak, jadi strategi kita itu adalah sekarang ini kita mendapatkan pasokan dari kawasan yang tidak memerlukan lewat Hormuz. Jadi kita banyak kerja sama sekarang dengan Aljazair, Nigeria, Angola, di Afrika. Jadi banyak pasokan minyak dari Afrika,” ujar Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), Arif Havas Oegroseno yang menyampaikannya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (11/6/26) lalu, dikutip media.

Tetap monitor situasi makroekonomi global

Kendati begitu, Arif menekankan Indonesia tetap memonitor situasi makroekonomi global imbas penutupan Selat Hormuz tersebut.

Namun bagaimanapun, menurutnya, seperempat perdagangan minyak laut dunia melewati Selat Hormuz, sehingga penutupan berdampak pada tingginya harga minyak global.

“Ya, kalau itu makroekonomi global, ya, kita tinggal monitor makroekonomi global itu seperti apa kondisinya. Kita memonitor banyak aspek karena dari sisi bisnis spesifik, yang banyak terdampak kan Migas, terus plastik, lalu pupuk, ya. Ini berdampak global, ya, enggak cuma hanya di suatu kawasan tertentu,” papar Arif lagi, dilansir Kompas.com.

Diketahui, sebelumnya, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) resmi menyatakan, Selat Hormuz ditutup untuk semua jalur pelayaran internasional hingga pemberitahuan lebih lanjut lagi.

Adapun jeputusan sepihak ini diambil menyusul eskalasi militer yang kian memanas antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk tersebut.

Bahkan, berdasarkan laporan dari Kantor Berita Mehr, pihak IRGC mengonfirmasi telah melepaskan tembakan dan menghantam dua kapal yang dinilai mencoba melintasi jalur laut strategis tersebut secara ilegal. Kendati demikian, detil mengenai jenis kapal, identitas kapal, serta tingkat kerusakan yang dialami belum dirilis secara resmi oleh sumber independen.

Terkait kangkah Iran ini, telah memicu kekhawatiran global terhadap keamanan jalur perdagangan energi dunia, mengingat Selat Hormuz merupakan rute vital bagi distribusi minyak mentah global ini.

Apalagi, dalam pernyataan resminya pada hari Kamis lalu, Markas Besar IRGC menegaskan, situasi keamanan di kawasan tersebut sudah tidak kondusif bagi aktivitas pelayaran sipil maupun komersial.

“Mulai saat ini, karena ketidakamanan di kawasan, Selat Hormuz dinyatakan tertutup bagi lalu lintas segala jenis kapal, termasuk tanker minyak dan kapal komersial, dan lalu lintas apa pun akan terdampak,” demikian bunyi pernyataan resmi dari Markas Besar IRGC, dikutip dari Tasnim News, hari Kamis lalu.

Selain itu, IRGC juga mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh otoritas pelayaran agar tidak mengabaikan instruksi tersebut. Mereka mengancam akan mengambil tindakan militer langsung bagi kapal yang nekat melintas kawasannya.

“Dua kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz secara ilegal telah dihantam. Kami memperingatkan agar tidak ada kapal yang berangkat dari tempat berlabuhnya di Teluk Persia atau Laut Oman. Pendekatan apa pun ke Selat Hormuz akan dianggap sebagai kerja sama dengan musuh,” tegas Angkatan Laut IRGC dalam pernyataan tertulisnya.

AS bombardir lagi kawasan selatan Iran

Di pihak lain, ledakan besar dilaporkan terdengar di beberapa wilayah Hormozgan dan kawasan selatan Iran lainnya.

Adapun ledakan ini terjadi bersamaan dengan konfirmasi dari militer Amerika Serikat (AS) yang mengeklaim telah meluncurkan gelombang serangan baru ke wilayah tersebut. Pihak Iran pun menyebut aksi militer AS ini sebagai “serangan tanpa provokasi”. (P-*r/Kps/jr)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025